Kamis, 06 Maret 2008

SEPERTI APA KANTORNYA "GOOGLE"??

Mungkin beberapa dari kita bertanya-tanya seperti apa suasana di dalam kantor situs pencari terbesar di dunia ini. Nah, gambar di bawah ini menunjukkan tangga untuk masuk ke sebuah bangunan yang disebut sebagai 'Googleplex' . Klik read more untuk melihat kantor dari perusahaan yang berpredikat sebagai 'nomor 1 dalam top 100 perusahaan yang paling diminati di Amerika' ini!


Googleplex berlokasi di Mountain View , California . Bangunan dengan bentuk mirip kampus ini memiliki 11 buah kafetaria, lapangan voli, tempat pijat, dan segudang fasilitas lainnya!

Google total mempekerjakan 10 ribu pegawai di seluruh dunia, dan mereka menerima CV atau surat lamaran setiap 25 detiknya setiap hari! Tidak heran jika melihat seperti apa tempat kerjanya ^_^

Jika kita menemukan orang yang berpakaian rapi, biasanya mereka adalah tamu. Para pegawai Google selalu memakai celana Jeans, t-shirt, sweater, atau bahkan piyama ^_^

Kafetaria di bawah ini memiliki segala jenis makanan yang ingin anda santap, yaitu sereal, buah-buahan, permen, kacang, M&Ms, toffee, wortel, yogurt, serta banyak jenis minuman termasuk soda, dan cappucino.



Jika anda sudah kenyang, mungkin ada baiknya berolahraga, karena kantor ini menyediakan segala jenis fasilitas olahraga. Mulai dari gym, kolam renang, pingpong, dan lain-lain.


Atau jika para pegawainya ingin sekedar relaxing, mereka bisa bermain biliar, foosball, pinball, dan berbagai jenis video game


Selain fasilitas, layanan bagi para pegawainya pun diutamakan, yang dapat dilihat dari salon gratis, dry cleaning dan laundry, serta layanan penitipan anak, 5 dokter, serta servis mobil yang semuanya gratis dan tersedia..

Bahkan jika kita ingin ditemani binatang peliharaan kita, kita boleh membawanya ke kantor, dengan catatan kita sendiri yang harus mengurusnya.

Begitu enaknya suasana bekerja di kantor ini, sehingga salah seorang VPnya yang bernama Marissa Mayer dari Search and New Product Division mengatakan bahwa ia mau saja kerja tanpa dibayar di Google ^_^


Sungguh enak menjadi karyawan Google. Selain mendapat opsi saham yang membuat mereka saat ini kaya raya, dalam pekerjaan sehari-hari kenyamanan dan kesenangan mereka sangat diperhatikan oleh perusahaan.

Dalam buku Kisah Sukses Google yang dibagi menjadi 26 bab ini memang tidak ada bab khusus yang berhubungan langsung dengan pengelolaan SDM. Tapi, dalam banyak bab terselip cerita tentang bagaimana Sergey Brin dan Larry Page, kedua "Google Guys" itu, menerapkan strategi yang membuat karyawan betah bekerja dan orang di luar tertarik untuk bergabung.

Brin dan Page menawarkan sepuluh alasan untuk bekerja di Google. Termasuk, teknologi yang hebat, opsi saham, cemilan dan minuman gratis, serta kepastian bahwa jutaan orang "akan menggunakan dan memuji perangkat lunak Anda."

Kedua pendiri dan pemilik Google itu mewawancarai sendiri para calon karyawan mereka. Dan, itu sebisanya tetap mereka lakukan meskipun jumlah karyawan Google saat ini sudah mencapai lebih dari 4000 orang. Mereka merombak hierarki dalam organisasi tradisional dan menjalankan perusahaan dengan cara mereka sendiri.

Buku ini menggambarkan betapa Brin dan Page berhemat sekali ketika membangun infrastruktur komputer untuk menjalankan bisnisnya. Namun, mereka berani mengeluarkan dana berapa pun untuk menciptakan kultur yang tepat di lingkungan Googleplex (kompleks kantor
Google di Silicon Valley) dan menumbuhkan kesetiaan serta kepuasan kerja sebesar-besarnya di kalangan para Googler (sebutan untuk karyawan Google). Benda-benda yang menunjukkan budaya tersebut --bola lempar warna-warni, lampu lava dan aneka mainan di
sana-sini-- menghadirkan suasana keceriaan sebuah kampus perguruan tinggi ke dalam perusahaan. Semua itu, Brin dan Page yakin, akan kembali secara berlimpah dalam jangka panjang.

Para karyawan Google bekerja keras sepanjang waktu, namun mereka diperlakukan seperti keluarga: diberi makan gratis, minuman kesehatan cuma-cuma, dan cemilan yang berlimpah. Para Googler juga menikmati sejumlah kemudahan seperti layanan binatu, penata rambut, dokter umum dan dokter gigi, pencucian mobil --dan, belakangan tempat penitipan anak, fasilitas kebugaran lengkap dengan pelatih pribadi, tukang pijat profesional- - yang praktis membuat orang tidak perlu meninggalkan kantor.

Tak ketinggalan: Voli pantai, fusbal, hoki sepatu roda, lomba skuter, pohon palma , kursi bean bag, bahkan anjing. Semuanya dalam rangka menghadirkan suasana kerja yang menyenangkan dan mendorong kreativitas sehingga para karyawan Google, yang kebanyakan masih muda dan lajang, senang menghabiskan waktu mereka di sana . Google bahkan mencarter beberapa bus dengan akses internet nirkabel sehingga para Googler yang tinggal di San Francisco bisa tetap produktif, bisa langsung bekerja menggunakan laptop
daripada kesal atau melamun karena macet sewaktu berangkat bekerja.

Aturan Dua Puluh Persen

Yang paling menarik dari semua sistem yang diterapkan Google terhadap karyawannya, dan sangat dinikmati, adalah aturan bahwa semua software engineer harus menggunakan setidaknya 20% waktu mereka --kira-kira sama dengan sehari dalam seminggu-- untuk mengerjakan proyek apa pun yang mereka minati. Aturan 20% ini merupakan cara untuk mendorong inovasi, dan baik Brin maupun Page memandangnya sebagai sesuatu yang penting dalam rangka membangun dan mempertahankan kultur yang benar. Di samping, menciptakan tempat yang membuat orang-orang cerdas mau bekerja dan termotivasi untuk melahirkan gagasan-gagasan terobosan.

Dalam buku ini diungkapkan, seperti juga telah dimaklumi di mana-mana, di banyak perusahaan, mengerjakan proyek sampingan atau mengembangkan gagasan baru di luar tugas pokok umumnya tidak diperbolehkan. Bagi orang-orang kreatif, ini sering membuat mereka terpaksa mengerjakannya secara sembunyi-sembunyi, sewaktu bos sedang tidak ada. Di Google, pendekatan 20% tersebut menyarankan pesan yang sebaliknya --gunakan satu hari dalam seminggu untuk apa pun yang paling Anda inginkan.

Lebih dari itu, secara berkala proyek-proyek pribadi itu didiskusikan bersama dengan rekan-rekan kerja yang lain. Proyek yang dianggap layak untuk diteruskan akan dibiayai sepenuhnya oleh Google. Banyak terobosan baru Google telah lahir dari penerapan aturan 20% ini.

Google vs Microsoft


Pentingnya SDM dalam perusahaan teknologi seperti Google ditunjukkan dalam pertarungan Google melawan Microsoft. Sementara banyak pakar membandingkan kedua perusahaan itu dalam hal strategi perangkat lunak dan produk, mereka sendiri justru cenderung kurang memperhatikan medan perang yang sesungguhnya. Pertarungan yang sesungguhnya terjadi di kampus-kampus dan juga bisa di mana-mana, dalam hal merekrut dan mempertahankan orang-orang paling cerdas dari seluruh dunia.

Buku ini mengungkapkan bagaimana CEO Google Eric Schmidt datang ke kampus-kampus untuk merekrut talenta baru, dan bagaimana perebutan SDM yang sengit antara Google dengan Microsoft. Banyak karyawan terbaik Microsoft hijrah ke perusahaan yang lebih muda itu, yang membuat pucuk pimpinan Microsoft Bill Gates menjelang mimpi buruknya.

Mengapa Google menganggap merekrut orang yang tepat adalah faktor yang paling penting bagi keberlangsungan organisasinya dituturkan sendiri oleh Schmidt, "Rahasia di sini bukan dalam hal mengelola orang-orang ini, melainkan dalam memilih mereka." Lanjut dia, "Model kerja seperti ini berhasil hanya jika kami mendapatkan orang yang tepat. Ia akan gagal total dalam organisasi dengan orang-orang yang menunggu petunjuk atasan dan hanya boleh mengerjakan proyek tertentu dan berukuran besar. Sedapat mungkin kami berusaha agar jumlah manajer tingkat menengah sesedikit mungkin. Mereka berpeluang menjadi penghambat."

Cerita-cerita seperti itu, dan masih banyak cerita menarik lainnya dalam buku ini, bisa menjadi inspirasi dalam penerapan sistem pengelolaan SDM khususnya untuk organisasi yang berhubungan dengan teknologi. Selain itu, kisah bagaimana Google menjadi raja mesin
pencari, dan kini juga menjadi perusahaan internet paling dominan di jagat raya ini, sekaligus raksasa pencetak uang, tak kalah menarik sebagai inspirasi dalam berkarya.

Memanjakan Karyawan ala Google
Judul Buku: Kisah Sukses Google
Pengarang: David A. Vise dan Mark Malseed
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Penulis Resensi: Meisia

Buku ini ditulis oleh David A. Vise, seorang wartawan Washington Post pemenang Pulitzer Prize, dan Mark Malseed, kontributor untuk Washington Post dan Boston Herald.

Tidak ada komentar: