Kairo adalah kota dimana manusia-manusia Fahri, Aisha, Maria, Noura, Nurul,
dan segudang manusia-manusia ciptaan Kang Abik bertebaran, hidup, saling
bicara dan saling mencinta. Kairo sangat indah kata kang Abik. Sudut-sudut
pasar El Khalili, jalanan di Down Town, Menara-menara masjid termasuk
didalamnya Masjid Al Azhar dan University of Azhar Cairo. Sangat detil kang
Abik menggambarkan itu dalam novelnya, yang membuat aku tertantang untuk
mewujudkan dalam gambar: Bangunan-bangunan tua peninggalan 3 Dinasti
(Firaun, kesultanan dan Penjajah Perancis), Kios-kios berdempetan berhadapan
dengan trotoar-trotoar sempit yang penuh dengan pejalan kaki, terkadang
diisi kursi-kursi rotan café pinggir jalan yang meletakkan seorang tua
sedang menyedot shisa. Lalu 5 jam dari tempat itu, menuju matahari terbit,
kita melihat kampung tua El Giza dengan aroma kotoran unta yang . hmmm,
sekilas menjijikkan, tetapi . tertutup oleh eksotisnya lingkungan khas
kairo. Bangunan itu berdiri dari tumpukan bata-bata merah yang dipoles
campuran semen dan pasir. Menjadikan warna coklat muda dominan, berpadu
selaras dengan warna tanah, warna kain-kain yang dipakai membalut tubuh
gadis-gadis kairo, dan warna kulit unta. Bangunan itu ada banyak.
Bertebaran. Saling berdiri begitu saja. Tidak begitu rapi seperti
bangunan-bangunan kuno di Itali atau paris, tapi sangat menarik bagiku.
Apalagi dengan latar belakang sepasang pyramid yang gagah menjulang
menyentuh langit.
Kairo . ah, Kairo. Di kota ini aku akan meletakkan kamera, melukis dengan
cahaya, membangun set dan meletakkan pemain-pemain didalamnya. Pemain
Indonesia yang bergaya selayaknya orang kairo asli.
Aku datang bersama tim kecil, menjalin kerjasama dengan local production
house, Egypt Production. Mereka sangat senang menyambut kedatangan kami.
Kata mereka, tidak mudah membuat film di kairo. Skenario film harus dapat
ijin dari sensor film. Tidak seperti di Indonesia. Bisa dengan gampang
membuat film apa aja. Karena waktu yang kita punya sangat sempit, ijin yang
seharusnya 3 bulan, bisa diurus dalam 2 minggu oleh seorang local producer
bernama Tammer Abbas; seorang muslim kairo, cerdas, berpengalaman di bidang
film dan kharismatis. Tammer mem-provide apa yang kita butuhkan: Hunting
Lokasi, akomodasi dan transportasi hingga penyewaan alat. Di benankku,
sedemikian jelas tergambar film ini akan sedetil seperti yang kang abik
tuliskan di novel.
Setelah riset selesai dan scenario jadi, 20 tim dari Jakarta datang
untuk melakukan hunting lokasi sekaligus test kamera. Kami melakukan
shooting di sebuah tempat di El Giza. Alat-alat yang di sediakan buat kami
jauh lebih bagus dari yang sering kita pakai di Indonesia. Kami sangat di
support disana. Kami melakukan persiapan di kairo selama 2 minggu. Tammer
akan mensupport semua shooting di Kairo berikut kostum, lokasi, crew dan
pemain pendukung. Film ini benar-benar akan menjadi film Indonesia yang
shooting total di Luar Negeri. Baru pertama kali terjadi dalam sejarah
perkembangan film nasional. Bisa dibayangkan, bagaimana perasaanku waktu
itu. Ibu, aku akan persembahkan yang terbaik buatmu . sebuah film agama yang
indah dan bersahaja. Yang akan kau kenang . dan semua umat muslim Indonesia
dan dunia tentunya .
`Mendadak semua berhenti begitu saja. Impian itu kandas. Producer
membatalkan shooting di Kairo dengan alasan bujet produksi yang ditawarkan
Egypt Production tidak masuk akal. Tammer Abbas menawarkan angka 3 kali
lipat produksi standart Film Indonesia. 1 Film AAC di produksi sama saja
memproduksi 3 film layar lebar di Jakarta. Siapapun producer di negeri ini
akan berfikiran sama: Membatalkan produksi Film.
Seakan runtuh bangunan mimpi yang sudah aku bangun. Satu persatu
menimpaku.
Tapi producerku tidak begitu saja berniat membatalkan produksi film ini.
'Kita sudah terlanjur berjanji dengan banyak orang.' Katanya .
Bersama-sama kita mulai memikirkan bagaimana AAC bisa diproduksi sesuai
dengan apa yang kita inginkan. Kemudian kita mencari sponsor untuk bisa
tetap shooting di Kairo. Kita menjalin kerjasama dengan The Embassy of Egypt
di Jakarta. Lewat hubungan baik dengan ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin,
mereka setuju dengan tawaran ini. Kata Dubesnya, Film ini akan dikelola oleh
dua Negara: Indonesia dan mesir. Sebelum di putar di bioskop, film ini harus
diputar dihadapan presiden Negara-Negara Islam di Asia dan Timur Tengah,
begitu kata Dubes. Betapa senangnya aku mendengar kabar ini. Impianku
bangkit. Ku kabarkan berita ini ke teman-teman crew dan pemain. Mereka
kembali semangat. Akhirnya dibuatkan kesepakatan antara dua Negara melalui
Dubes Mesir-DepBudPar- PP Muhammadiyah. Bersama-sama kita melakukan pers
conference, mengabarkan berita gembira ini ke masyarakat.
Namun lagi-lagi semua itu tidak ada artinya. Pemerintah mesir, sekalipun
memberikan dukungan buat kerjasama ini, tidak bisa melakukan intervensi
terhadap harga-harga termasuk di dalamnya Equiptment, lokasi, property. Itu
adalah hak perusahaan swasta. Artinya, sekalipun di dukung pemerintah, tetap
tidak bisa mempengaruhi harga. Harapan shooting di Kairo akhirnya kandas.
Terlebih lagi pihak Egypt Production tiba-tiba mengirimkan tagihan atas
hunting, pelayanan persiapan dan test kamera selama di kairo sebesar 500
juta rupiah. Angka yang tidak masuk akal buat producer untuk harga test
kamera dan hunting. Biasanya di Jakarta kami melakukan hunting sekitar 5
juta sampai 10 juta. Test kamera gratis kita lakukan karena itu salah satu
fasilitas perusahaan penyewaan alat.
Akhirnya producer tidak mau membayarnya. Terjadilah perselisihan antara
keduanya. Pihak Egypt Production melayangkan surat gugatan ke pihak KBRI di
Kairo. Pihak KBRI kairo mengirimkan surat ke Departemen Luar Negeri
Indonesia dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang isinya terjadi
penipuan pihak MD kepada perusahaan Kairo. Berita ini membuat Deplu dan
Depbudpar menarik kembali dukungannya. Begitu juga dengan pihak Dubes Mesir.
Seperti sebuah drama tragedy saja, nasib produksi Ayat-Ayat cinta tidak
terselamatkan.
Terbayang olehku bangunan-bangunan bersejarah, menara-menara masjid
Azhar yang tinggi menjulang, kios-kios berjajar, pasar-pasar tradisional,
pyramid, guran sahara, pantai Alexandria yang indah . hilang . hilang
ditelan angin begitu saja. Lalu pesan ibu terngiang : . Kalau kamu sudah
bisa membuat film, buatlah film agama .
Ana aasif . ya ummi .
KISAH DI BALIK PRODUKSI AYAT-AYAT CINTA (bag.3)
Bukan sekali ini aku mendapatkan persoalan pada saat membuat film.
Persoalan buatku adalah sahabat karib. Di Dapur Film aku menekankan ke
teman-teman, jika mau terjun ke dunia film, persoalan adalah bagian hidup
kita. Bukan berarti kita mencari persoalan, tapi persoalan harus kita sikapi
sebagai tantangan. Akan tetapi persoalan yang menimpaku sekarang ini seolah
tak berujung. Menangis sudah bukan suatu yang luar biasa lagi.
Sejak kabar kita bakal sulit shooting di kairo aku jadi tidak bergairah.
Tapi kabar film AAC bakal diproduksi sudah beredar. Posisiku sulit.
Bersamaan dengan itu film produksi pertama MD yang berbujet besar drop di
pasaran. Sebuah film yang dianggap idealis, bahkan tidak mampu menembus
angka 100 ribu penonton. Keyakinan producer mulai goyah.
'Apakah kamu masih yakin AAC akan diproduksi?' Kata producer padaku,
'Iya' jawabku yakin. Sekalipun aku sendiri tidak tahu apakah keyakinan
itu sekuat dulu.
'Apakah AAC adalah film yang bakal di tonton?' tanyanya kemudian.
Aku lalu ingat pernyataannya tentang 80% penduduk Indonesia adalah muslim.
Kemudian aku membalikkan pernyataan itu kepadanya. Jawabnya .
'Ya, tetapi setelah melihat realitas, penonton kita masih belum bisa
menerima film-film berat.'
Beberapa detik aku sempet bingung dengan istilah film berat. Aku tahu pada
waktu itu kondisi psikologis producerku sedang drop. Tidak hanya satu-dua
juta kerugian yang dia tanggung di film pertama. Wajar jika sudah
menggoyahkan keyakinannya. Aku berusaha meyakinkan dia lagi kalau AAC adalah
film yang ditunggu penonton. Aku juga meyakinkan kalau kita di dukung oleh
Muhammadiyah. Tapi alasan itu tidak cukup buat dia. Sebuah dukungan bisa
dengan gampang dicabut. Tetapi sebuah produk yang sudah diproduksi tidak
bisa diuangkan. Investor tetap menanggung beban besar. Intinya, dia butuh
keyakinan kalau AAC adalah film yang bakal ditonton lebih dari 1 juta
penonton. Jumlah tersebut diperhitungkan secara bisnis untuk balik modal,
mengingat bujet yang dipersiapkan untuk memproduksi AAC duakali lipat bujet
standart Film Indonesia. Yah, sekitar 7 Milyar.
Lalu produk seperti apa yang ditonton oleh satu juta penonton?
Pertanyaan itu yang akan merobah karakter Film Ayat-Ayat Cinta yang
selanjutkan menjadi persoalanku kemudian.
Pertama yang dilakukan untuk menset-up produk agar ditonton oleh satu juta
penonton adalah mengubah scenario menjadi light. Scenariopun dirombak total.
Producer sempat menghubungi Musfar Yasin untuk menggantikan Salman Aristo,
karena pada saat itu Nagabonar jadi 2 meraih 1,3 juta penonton. Musfar
menolak dengan alasan tidak etis. Salman Aristo kemudian bersedia merubah
scenario dengan catatan sedikit keluar dari novel. Kita sepakat. Dalam hal
ini Kang Abik sedikit kita abaikan dengan maksud segalanya berjalan lancar.
Mengingat kang Abik kondisinya waktu itu tidak di Jakarta, sehingga untuk
melakukan diskusi scenario harus menghadirkannya dari semarang.
Skenario dibuat dalam 2 minggu. Selama 2 minggu itu kegiatan persiapan
menjelang shooting dihentikan. Di minggu ketiga seharusnya kita sudah
melakukan shooting, terpaksa dilakukan persiapan lagi. Jadwal akhirnya
mundur satu bulan. Keberatan muncul dari para pemain. Sebagian pemain
Ayat-Ayat Cinta adalah pemain dengan jadwal ketat. Fedi Nuril sibuk dengan
album dan tour Garasi. Ryanti sibuk dengan jadwal MTV, Carissa dan tante
Marini sibuk dengan sinteron striping, Melanie putria dan Surya Saputra
sibuk dengan presenter. Kalau produksi ini mundur schedule pemain yang akan
sulit. Di bulan kedepan para pemain tersebut sudah masuk schedule lain
diluar Ayat-Ayat Cinta. Hal itu membuat Iqbal Rais, asistenku kelabakan
mengatur schedule. Dalam 2 minggu itu pekerjaan Iqbal berkali-kali melakukan
revisi schedule dan breakdown shooting. Sedangkan Amelia Oktavia (amek) dan
Ruth Damai Pakpahan (Iyuth) yang bertugas sebagai casting director me-loby
pemain kembali. Itu tidak mudah tentunya. Schedule di luar AAC sudah
terlanjur di booking oleh para manajer. Malah beberapa ada yang sudah
kontrak.
Seperti yang disepakati bersama, scenario rampung dalam 2 minggu. Tapi
bukan berarti persoalan selesai disitu. Tahap berikutnya adalah menentukan
dimana shooting dilakukan, mengingat kairo sudah tertutup buat MD. Oh,ya .
Hal mendasar yang membuat produksi ini mengalami kendala kreatif adalah
producer mulai menekan bujet produksi akibat kerugian di film pertama.
Pemindahan shooting di Indonesia dilakukan dengan asumsi bujet produksi
tidak semahal di Kairo. Padahal kenyataan di lapangan tidak semudah asumsi
itu. Sesuatu yang diciptakan dengan set akan lebih mahal dibanding kita
menggunakan set yang sudah jadi. Kalau toh ditemukan rumah yang mirip dengan
yang ada di Kairo, perabot didalam rumah itu tidak bisa dipakai.
Menjelang shooting aku dan producer banyak bertengkar soal itu.
Pengajuan bujet untuk tata artistic di potong. Begitupun dengan pengajuan
lampu. Aku seperti berada dalam ruang isolasi yang semakin lama dinding itu
bergerak menghimpit. Pada awal persiapan, konsep film AAC adalah
menghadirkan keindahan kota kairo dengan memotret lansekap sebagaimana
tertulis di novelnya kang Abik. Kini, terpaksa harus aku persempit mengingat
lokasi shooting tidak memadai dan peralatan pendukung dikurangi. Aku dan
Salman Aristo memutuskan memperkuat dramatik cerita daripada keindahan
gambar. Oleh sebab itu beban jatuh pada para pemain. Pemain harus mampu
secara meyakinkan membawakan karakter yang diperankan. Disini muncul
persoalan baru. Sekalipun Amek dan Iyuth berhasil me-loby pemain untuk
mundur shooting, tapi tidak bisa dapat waktu untuk latihan. Jangankan untuk
melakukan riset dan observasi peran, untuk melakukan reading scenario saja
waktunya terbatas. Kepalaku mendadak berat sekali. Hari-hari shooting
tinggal beberapa hari, tapi permainan mereka masih jauh dari harapanku. Ya
Alloh, selamatkan aku. Selamatkan film ini .
Pernah suatu kali aku minta mundur lagi karena pemain belum siap,
terutama Rianti dan Carrisa. Producer tidak memberikan ijin. Aku bingung.
Aku melihat Rianti dan Cariisa masih jauh dari harapanku. Pada awalnya tokoh
Aisha diperankan Carrisa dan Rianti sebagai Maria. Saat latihan berlangsung,
aku merasa keduanya tidak pernah mencapai klimaks. Selalu saja ada yang
salah. Kemudian mas Whani Darmawan selaku acting coach (Penata laku) mencoba
merobah posisi. Rianti sebagai Aisha dan Carrisa sebagai Maria. Aku melihat
ada perubahan ke lebih baik. Mungkin tepatnya: Lebih pas . Tapi aku masih
belum yakin dengan itu, dikarenakan banyak persoalan kreatif lain yang
menghimpitku. Aku tidak bisa dengan jernih memutuskan. Lalu Aku minta
bantuan Salman Aristo untuk ikut memutuskan. Setelah melewati test kamera,
aku, Salman Aristo dan Producer bersama-sama melihat dan memutuskan siapa
yang pantas menjadi Aisha. Aku ingat waktu itu rapat untuk memutuskan siapa
yang pantas menjadi Aisha dilakukan 10 menit sebelum acara pers conference
yang menghadirkan PP Muhammdiyah Din Sayamsudin dan wartawan dari media
cetak dan TV. Di ruang lain, Rianti dan Carisa menunggu keputusan itu,
karena berhubungan dengan siapa yang akan memakai cadar dan jilbab pada saat
acara pers conference. Akhirnya, kami memutuskan Rianti yang menjadi Aisha.
Cadarpun terpasang menutup sebagian wajah cantik Rianti
Ketika hari Shooting ditentukan, pemain sudah disiapkan secara schedule,
Set sudah dibangun, mendadak ada kabar Ryanti akan di deportasi karena masa
tinggalnya sudah habis (Rianti masih menjadi warag Negara Inggris saat ini),
sehingga dia harus kabur ke Singapura beberapa hari sambil mengurus
perpanjangan masa tinggalnya di Indonesia. Shooting yang sudah kita tentukan
harus mundur lagi. Set yang sudah dibangun harus dibongkar. Kepalaku mulai
berat. Mataku mulai kabur. Allohu akbar! Apa lagi yang harus aku hadapi?
Berapa tetes lagi air mataku kutumpahkan dan berapa lapang lagi dadaku aku
rentangkan? Ingin rasanya aku lari dari semua ini. Tapi aku selalu ingat
pesan ayahku, wong lanang kui kudu mrantasi . (Lelaki itu harus
menyelesaikan segala persoalan). Aku melihat sisi positif dari kemunduran
ini. Aku bisa focus latihan buat pemain. Akhirnya kamipun mundur. Karena set
yang sudah dibuat tidak bisa dibongkar, kita terpaksa shooting satu hari
tapi setelah itu break seminggu.
Pada saat shooting, aku melihat kairo berdiri di Jakarta dan semarang. Aku
melihat metro yang dibangun bangsa Prancis di stasiun Manggarai. Aku melihat
perpustakaan Al Azhar dan ruang Talaqi masjid Al Azhar di Gedung Cipta Niaga
Jakarta Kota. Flat Fahri, Flat Maria dan Pasar El Khalili di kota lama dan
Gedung Lawang Sewu Semarang. Ruang sidang pengadilan Fahri di Gereja Imanuel
Jakarta. Apa yang dibangun Allan, art directorku, berhasil meski dengan
berbagai kendala keuangan yang tidak lancar. Untuk membangun set dan
menyediakan property, Allan sering mengeluarkan uang pribadinya untuk
menutup aliran uang yang tidak lancar. Gajinya yang seharusnya di
bagi-bagikan kepada krunya, habis buat belanja property dan membangun set.
Karenanya banyak krunya pada marah-marah dan kabur.
Pada saat shooting berlangsung, tidak begitu saja mulus dan on schedule.
Hari-hari pertama kami berhasil menghadirkan suasana kairo dengan menyewa
orang-orang arab sebagai extras. Karena shooting selalu selesai tengah
malam, orang-orang arab lama-lama tidak mau diajak shooting lagi. Maklumlah,
mereka bukan berprofesi sebagai pemain. Kebanyakan dari mereka pedagang,
mahasiswa, karyawan bahkan ada yang dokter. Suatu kali pernah si dokter
marah-marah karena shooting sampai malam, padahal sebagai dokter dia tidak
pernah berpraktek sampai malam. Di hari-hari menjelang akhir shooting AAC,
bahkan untuk mengajak gembel Arab pasar Tanah Abang pun tidak bisa. Masya
Alloh!!
Di Kota lama dan Lawang sewu Semarang, kami menghadapi persoalan kamera
terbakar, hujan, berhadapan dengan preman Kota Lama, ruang sempit dan lapuk
karena tua yang membuat set lampu lama. Dengan begitu scene yang seharusnya
diambil jadi banyak terhutang. Untuk membayarnya, kita menunggu jadwal
pemain kosong, Amek dan Iyuth kembali me-loby, iqbal rais kembali membongkar
break down. Hal itu terus menerus mereka lakukan sampai-sampai Amek dan
Iyuth kehilangan muka di hadapan manajer dan pemain. Tidak jarang aku
melakukan improvisasi demi efisiensi. Banyak adegan aku sederhanakan. bahkan
dibuang. Tapi aku cukup senang karena aku bisa merobah salah satu sudut kota
lama semarang menjadi pasar di El-Giza. Aku menghadirkan unta dari Kebun
Binatang Gembiraloka Jogjakarta. Penduduk kota lama Semarang dibikin heboh
dengan munculnya unta secara tiba-tiba di sana.
Shooting paling berat yang aku rasakan pada saat adegan sidang Fahri.
Aku memilih gereja Imanuel Jakarta untuk di set sebagai ruang pengadilan.
Aku menghadirkan lebih dari 300 ekstrass. Semua pemain utama kumpul jadi
satu. Penata kostum, penata make up kewalahan menghadapi banyaknya pemain.
Ini salah satu scene dengan jumlah pemain paling banyak. Aku melihat hal
yang unik di sana. Banyak pemain memakai Jilbab bahkan bercadar, tapi mereka
berada di dalam gereja. Tanda salib bertebaran di atas kepala mereka. Suatu
yang lucu dan menarik aku lihat. Lalu aku ingat, pada saat aku masuk masjid
Al Azhar, bahkan untuk ijin memotret saja tidak mudah. Apalagi shooting.
Tapi di gereja Imanuel ini, aku tidak hanya membawa kamera dan lighting. Aku
bahkan memasukkan teralis penjara sebesar 3 meter persegi didalamnya. Aku
tertawa kalau memikirkan itu .
Tidak terasa, persoalan sudah menjadi bagian dari produksi ini. Malah,
ketika persoalan tidak muncul aku merasa ada yang aneh. Terlepas dari semua
itu, aku senang bisa terlibat dalam persoalan. Terlebih lagi, persoalan itu
bisa terpecahkan sekalipun dengan air mata. Semoga kedepan, aku bisa lebih
dewasa.
Robbana afrigh alaina shabran wa tsabit aghda mana fanshurnaa ala qaumil
kafiriin ...
( ...Ya Alloh, limpahkan kami kesabaran. tegakkanlah kaki kami kembali.
Lindungilah kami
atas orang-orang yang membenci kami ...)
Hingga shooting ini selesai, kami masih berhadapan dengan puluhan
persoalan lagi. Nantikan di bagian IV (AAC hijrah ke India untuk
menghadirkan Sungai Nil, Padang Pasir dan kota) ...
dan segudang manusia-manusia ciptaan Kang Abik bertebaran, hidup, saling
bicara dan saling mencinta. Kairo sangat indah kata kang Abik. Sudut-sudut
pasar El Khalili, jalanan di Down Town, Menara-menara masjid termasuk
didalamnya Masjid Al Azhar dan University of Azhar Cairo. Sangat detil kang
Abik menggambarkan itu dalam novelnya, yang membuat aku tertantang untuk
mewujudkan dalam gambar: Bangunan-bangunan tua peninggalan 3 Dinasti
(Firaun, kesultanan dan Penjajah Perancis), Kios-kios berdempetan berhadapan
dengan trotoar-trotoar sempit yang penuh dengan pejalan kaki, terkadang
diisi kursi-kursi rotan café pinggir jalan yang meletakkan seorang tua
sedang menyedot shisa. Lalu 5 jam dari tempat itu, menuju matahari terbit,
kita melihat kampung tua El Giza dengan aroma kotoran unta yang . hmmm,
sekilas menjijikkan, tetapi . tertutup oleh eksotisnya lingkungan khas
kairo. Bangunan itu berdiri dari tumpukan bata-bata merah yang dipoles
campuran semen dan pasir. Menjadikan warna coklat muda dominan, berpadu
selaras dengan warna tanah, warna kain-kain yang dipakai membalut tubuh
gadis-gadis kairo, dan warna kulit unta. Bangunan itu ada banyak.
Bertebaran. Saling berdiri begitu saja. Tidak begitu rapi seperti
bangunan-bangunan kuno di Itali atau paris, tapi sangat menarik bagiku.
Apalagi dengan latar belakang sepasang pyramid yang gagah menjulang
menyentuh langit.
Kairo . ah, Kairo. Di kota ini aku akan meletakkan kamera, melukis dengan
cahaya, membangun set dan meletakkan pemain-pemain didalamnya. Pemain
Indonesia yang bergaya selayaknya orang kairo asli.
Aku datang bersama tim kecil, menjalin kerjasama dengan local production
house, Egypt Production. Mereka sangat senang menyambut kedatangan kami.
Kata mereka, tidak mudah membuat film di kairo. Skenario film harus dapat
ijin dari sensor film. Tidak seperti di Indonesia. Bisa dengan gampang
membuat film apa aja. Karena waktu yang kita punya sangat sempit, ijin yang
seharusnya 3 bulan, bisa diurus dalam 2 minggu oleh seorang local producer
bernama Tammer Abbas; seorang muslim kairo, cerdas, berpengalaman di bidang
film dan kharismatis. Tammer mem-provide apa yang kita butuhkan: Hunting
Lokasi, akomodasi dan transportasi hingga penyewaan alat. Di benankku,
sedemikian jelas tergambar film ini akan sedetil seperti yang kang abik
tuliskan di novel.
Setelah riset selesai dan scenario jadi, 20 tim dari Jakarta datang
untuk melakukan hunting lokasi sekaligus test kamera. Kami melakukan
shooting di sebuah tempat di El Giza. Alat-alat yang di sediakan buat kami
jauh lebih bagus dari yang sering kita pakai di Indonesia. Kami sangat di
support disana. Kami melakukan persiapan di kairo selama 2 minggu. Tammer
akan mensupport semua shooting di Kairo berikut kostum, lokasi, crew dan
pemain pendukung. Film ini benar-benar akan menjadi film Indonesia yang
shooting total di Luar Negeri. Baru pertama kali terjadi dalam sejarah
perkembangan film nasional. Bisa dibayangkan, bagaimana perasaanku waktu
itu. Ibu, aku akan persembahkan yang terbaik buatmu . sebuah film agama yang
indah dan bersahaja. Yang akan kau kenang . dan semua umat muslim Indonesia
dan dunia tentunya .
`Mendadak semua berhenti begitu saja. Impian itu kandas. Producer
membatalkan shooting di Kairo dengan alasan bujet produksi yang ditawarkan
Egypt Production tidak masuk akal. Tammer Abbas menawarkan angka 3 kali
lipat produksi standart Film Indonesia. 1 Film AAC di produksi sama saja
memproduksi 3 film layar lebar di Jakarta. Siapapun producer di negeri ini
akan berfikiran sama: Membatalkan produksi Film.
Seakan runtuh bangunan mimpi yang sudah aku bangun. Satu persatu
menimpaku.
Tapi producerku tidak begitu saja berniat membatalkan produksi film ini.
'Kita sudah terlanjur berjanji dengan banyak orang.' Katanya .
Bersama-sama kita mulai memikirkan bagaimana AAC bisa diproduksi sesuai
dengan apa yang kita inginkan. Kemudian kita mencari sponsor untuk bisa
tetap shooting di Kairo. Kita menjalin kerjasama dengan The Embassy of Egypt
di Jakarta. Lewat hubungan baik dengan ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin,
mereka setuju dengan tawaran ini. Kata Dubesnya, Film ini akan dikelola oleh
dua Negara: Indonesia dan mesir. Sebelum di putar di bioskop, film ini harus
diputar dihadapan presiden Negara-Negara Islam di Asia dan Timur Tengah,
begitu kata Dubes. Betapa senangnya aku mendengar kabar ini. Impianku
bangkit. Ku kabarkan berita ini ke teman-teman crew dan pemain. Mereka
kembali semangat. Akhirnya dibuatkan kesepakatan antara dua Negara melalui
Dubes Mesir-DepBudPar- PP Muhammadiyah. Bersama-sama kita melakukan pers
conference, mengabarkan berita gembira ini ke masyarakat.
Namun lagi-lagi semua itu tidak ada artinya. Pemerintah mesir, sekalipun
memberikan dukungan buat kerjasama ini, tidak bisa melakukan intervensi
terhadap harga-harga termasuk di dalamnya Equiptment, lokasi, property. Itu
adalah hak perusahaan swasta. Artinya, sekalipun di dukung pemerintah, tetap
tidak bisa mempengaruhi harga. Harapan shooting di Kairo akhirnya kandas.
Terlebih lagi pihak Egypt Production tiba-tiba mengirimkan tagihan atas
hunting, pelayanan persiapan dan test kamera selama di kairo sebesar 500
juta rupiah. Angka yang tidak masuk akal buat producer untuk harga test
kamera dan hunting. Biasanya di Jakarta kami melakukan hunting sekitar 5
juta sampai 10 juta. Test kamera gratis kita lakukan karena itu salah satu
fasilitas perusahaan penyewaan alat.
Akhirnya producer tidak mau membayarnya. Terjadilah perselisihan antara
keduanya. Pihak Egypt Production melayangkan surat gugatan ke pihak KBRI di
Kairo. Pihak KBRI kairo mengirimkan surat ke Departemen Luar Negeri
Indonesia dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang isinya terjadi
penipuan pihak MD kepada perusahaan Kairo. Berita ini membuat Deplu dan
Depbudpar menarik kembali dukungannya. Begitu juga dengan pihak Dubes Mesir.
Seperti sebuah drama tragedy saja, nasib produksi Ayat-Ayat cinta tidak
terselamatkan.
Terbayang olehku bangunan-bangunan bersejarah, menara-menara masjid
Azhar yang tinggi menjulang, kios-kios berjajar, pasar-pasar tradisional,
pyramid, guran sahara, pantai Alexandria yang indah . hilang . hilang
ditelan angin begitu saja. Lalu pesan ibu terngiang : . Kalau kamu sudah
bisa membuat film, buatlah film agama .
Ana aasif . ya ummi .
KISAH DI BALIK PRODUKSI AYAT-AYAT CINTA (bag.3)
Bukan sekali ini aku mendapatkan persoalan pada saat membuat film.
Persoalan buatku adalah sahabat karib. Di Dapur Film aku menekankan ke
teman-teman, jika mau terjun ke dunia film, persoalan adalah bagian hidup
kita. Bukan berarti kita mencari persoalan, tapi persoalan harus kita sikapi
sebagai tantangan. Akan tetapi persoalan yang menimpaku sekarang ini seolah
tak berujung. Menangis sudah bukan suatu yang luar biasa lagi.
Sejak kabar kita bakal sulit shooting di kairo aku jadi tidak bergairah.
Tapi kabar film AAC bakal diproduksi sudah beredar. Posisiku sulit.
Bersamaan dengan itu film produksi pertama MD yang berbujet besar drop di
pasaran. Sebuah film yang dianggap idealis, bahkan tidak mampu menembus
angka 100 ribu penonton. Keyakinan producer mulai goyah.
'Apakah kamu masih yakin AAC akan diproduksi?' Kata producer padaku,
'Iya' jawabku yakin. Sekalipun aku sendiri tidak tahu apakah keyakinan
itu sekuat dulu.
'Apakah AAC adalah film yang bakal di tonton?' tanyanya kemudian.
Aku lalu ingat pernyataannya tentang 80% penduduk Indonesia adalah muslim.
Kemudian aku membalikkan pernyataan itu kepadanya. Jawabnya .
'Ya, tetapi setelah melihat realitas, penonton kita masih belum bisa
menerima film-film berat.'
Beberapa detik aku sempet bingung dengan istilah film berat. Aku tahu pada
waktu itu kondisi psikologis producerku sedang drop. Tidak hanya satu-dua
juta kerugian yang dia tanggung di film pertama. Wajar jika sudah
menggoyahkan keyakinannya. Aku berusaha meyakinkan dia lagi kalau AAC adalah
film yang ditunggu penonton. Aku juga meyakinkan kalau kita di dukung oleh
Muhammadiyah. Tapi alasan itu tidak cukup buat dia. Sebuah dukungan bisa
dengan gampang dicabut. Tetapi sebuah produk yang sudah diproduksi tidak
bisa diuangkan. Investor tetap menanggung beban besar. Intinya, dia butuh
keyakinan kalau AAC adalah film yang bakal ditonton lebih dari 1 juta
penonton. Jumlah tersebut diperhitungkan secara bisnis untuk balik modal,
mengingat bujet yang dipersiapkan untuk memproduksi AAC duakali lipat bujet
standart Film Indonesia. Yah, sekitar 7 Milyar.
Lalu produk seperti apa yang ditonton oleh satu juta penonton?
Pertanyaan itu yang akan merobah karakter Film Ayat-Ayat Cinta yang
selanjutkan menjadi persoalanku kemudian.
Pertama yang dilakukan untuk menset-up produk agar ditonton oleh satu juta
penonton adalah mengubah scenario menjadi light. Scenariopun dirombak total.
Producer sempat menghubungi Musfar Yasin untuk menggantikan Salman Aristo,
karena pada saat itu Nagabonar jadi 2 meraih 1,3 juta penonton. Musfar
menolak dengan alasan tidak etis. Salman Aristo kemudian bersedia merubah
scenario dengan catatan sedikit keluar dari novel. Kita sepakat. Dalam hal
ini Kang Abik sedikit kita abaikan dengan maksud segalanya berjalan lancar.
Mengingat kang Abik kondisinya waktu itu tidak di Jakarta, sehingga untuk
melakukan diskusi scenario harus menghadirkannya dari semarang.
Skenario dibuat dalam 2 minggu. Selama 2 minggu itu kegiatan persiapan
menjelang shooting dihentikan. Di minggu ketiga seharusnya kita sudah
melakukan shooting, terpaksa dilakukan persiapan lagi. Jadwal akhirnya
mundur satu bulan. Keberatan muncul dari para pemain. Sebagian pemain
Ayat-Ayat Cinta adalah pemain dengan jadwal ketat. Fedi Nuril sibuk dengan
album dan tour Garasi. Ryanti sibuk dengan jadwal MTV, Carissa dan tante
Marini sibuk dengan sinteron striping, Melanie putria dan Surya Saputra
sibuk dengan presenter. Kalau produksi ini mundur schedule pemain yang akan
sulit. Di bulan kedepan para pemain tersebut sudah masuk schedule lain
diluar Ayat-Ayat Cinta. Hal itu membuat Iqbal Rais, asistenku kelabakan
mengatur schedule. Dalam 2 minggu itu pekerjaan Iqbal berkali-kali melakukan
revisi schedule dan breakdown shooting. Sedangkan Amelia Oktavia (amek) dan
Ruth Damai Pakpahan (Iyuth) yang bertugas sebagai casting director me-loby
pemain kembali. Itu tidak mudah tentunya. Schedule di luar AAC sudah
terlanjur di booking oleh para manajer. Malah beberapa ada yang sudah
kontrak.
Seperti yang disepakati bersama, scenario rampung dalam 2 minggu. Tapi
bukan berarti persoalan selesai disitu. Tahap berikutnya adalah menentukan
dimana shooting dilakukan, mengingat kairo sudah tertutup buat MD. Oh,ya .
Hal mendasar yang membuat produksi ini mengalami kendala kreatif adalah
producer mulai menekan bujet produksi akibat kerugian di film pertama.
Pemindahan shooting di Indonesia dilakukan dengan asumsi bujet produksi
tidak semahal di Kairo. Padahal kenyataan di lapangan tidak semudah asumsi
itu. Sesuatu yang diciptakan dengan set akan lebih mahal dibanding kita
menggunakan set yang sudah jadi. Kalau toh ditemukan rumah yang mirip dengan
yang ada di Kairo, perabot didalam rumah itu tidak bisa dipakai.
Menjelang shooting aku dan producer banyak bertengkar soal itu.
Pengajuan bujet untuk tata artistic di potong. Begitupun dengan pengajuan
lampu. Aku seperti berada dalam ruang isolasi yang semakin lama dinding itu
bergerak menghimpit. Pada awal persiapan, konsep film AAC adalah
menghadirkan keindahan kota kairo dengan memotret lansekap sebagaimana
tertulis di novelnya kang Abik. Kini, terpaksa harus aku persempit mengingat
lokasi shooting tidak memadai dan peralatan pendukung dikurangi. Aku dan
Salman Aristo memutuskan memperkuat dramatik cerita daripada keindahan
gambar. Oleh sebab itu beban jatuh pada para pemain. Pemain harus mampu
secara meyakinkan membawakan karakter yang diperankan. Disini muncul
persoalan baru. Sekalipun Amek dan Iyuth berhasil me-loby pemain untuk
mundur shooting, tapi tidak bisa dapat waktu untuk latihan. Jangankan untuk
melakukan riset dan observasi peran, untuk melakukan reading scenario saja
waktunya terbatas. Kepalaku mendadak berat sekali. Hari-hari shooting
tinggal beberapa hari, tapi permainan mereka masih jauh dari harapanku. Ya
Alloh, selamatkan aku. Selamatkan film ini .
Pernah suatu kali aku minta mundur lagi karena pemain belum siap,
terutama Rianti dan Carrisa. Producer tidak memberikan ijin. Aku bingung.
Aku melihat Rianti dan Cariisa masih jauh dari harapanku. Pada awalnya tokoh
Aisha diperankan Carrisa dan Rianti sebagai Maria. Saat latihan berlangsung,
aku merasa keduanya tidak pernah mencapai klimaks. Selalu saja ada yang
salah. Kemudian mas Whani Darmawan selaku acting coach (Penata laku) mencoba
merobah posisi. Rianti sebagai Aisha dan Carrisa sebagai Maria. Aku melihat
ada perubahan ke lebih baik. Mungkin tepatnya: Lebih pas . Tapi aku masih
belum yakin dengan itu, dikarenakan banyak persoalan kreatif lain yang
menghimpitku. Aku tidak bisa dengan jernih memutuskan. Lalu Aku minta
bantuan Salman Aristo untuk ikut memutuskan. Setelah melewati test kamera,
aku, Salman Aristo dan Producer bersama-sama melihat dan memutuskan siapa
yang pantas menjadi Aisha. Aku ingat waktu itu rapat untuk memutuskan siapa
yang pantas menjadi Aisha dilakukan 10 menit sebelum acara pers conference
yang menghadirkan PP Muhammdiyah Din Sayamsudin dan wartawan dari media
cetak dan TV. Di ruang lain, Rianti dan Carisa menunggu keputusan itu,
karena berhubungan dengan siapa yang akan memakai cadar dan jilbab pada saat
acara pers conference. Akhirnya, kami memutuskan Rianti yang menjadi Aisha.
Cadarpun terpasang menutup sebagian wajah cantik Rianti
Ketika hari Shooting ditentukan, pemain sudah disiapkan secara schedule,
Set sudah dibangun, mendadak ada kabar Ryanti akan di deportasi karena masa
tinggalnya sudah habis (Rianti masih menjadi warag Negara Inggris saat ini),
sehingga dia harus kabur ke Singapura beberapa hari sambil mengurus
perpanjangan masa tinggalnya di Indonesia. Shooting yang sudah kita tentukan
harus mundur lagi. Set yang sudah dibangun harus dibongkar. Kepalaku mulai
berat. Mataku mulai kabur. Allohu akbar! Apa lagi yang harus aku hadapi?
Berapa tetes lagi air mataku kutumpahkan dan berapa lapang lagi dadaku aku
rentangkan? Ingin rasanya aku lari dari semua ini. Tapi aku selalu ingat
pesan ayahku, wong lanang kui kudu mrantasi . (Lelaki itu harus
menyelesaikan segala persoalan). Aku melihat sisi positif dari kemunduran
ini. Aku bisa focus latihan buat pemain. Akhirnya kamipun mundur. Karena set
yang sudah dibuat tidak bisa dibongkar, kita terpaksa shooting satu hari
tapi setelah itu break seminggu.
Pada saat shooting, aku melihat kairo berdiri di Jakarta dan semarang. Aku
melihat metro yang dibangun bangsa Prancis di stasiun Manggarai. Aku melihat
perpustakaan Al Azhar dan ruang Talaqi masjid Al Azhar di Gedung Cipta Niaga
Jakarta Kota. Flat Fahri, Flat Maria dan Pasar El Khalili di kota lama dan
Gedung Lawang Sewu Semarang. Ruang sidang pengadilan Fahri di Gereja Imanuel
Jakarta. Apa yang dibangun Allan, art directorku, berhasil meski dengan
berbagai kendala keuangan yang tidak lancar. Untuk membangun set dan
menyediakan property, Allan sering mengeluarkan uang pribadinya untuk
menutup aliran uang yang tidak lancar. Gajinya yang seharusnya di
bagi-bagikan kepada krunya, habis buat belanja property dan membangun set.
Karenanya banyak krunya pada marah-marah dan kabur.
Pada saat shooting berlangsung, tidak begitu saja mulus dan on schedule.
Hari-hari pertama kami berhasil menghadirkan suasana kairo dengan menyewa
orang-orang arab sebagai extras. Karena shooting selalu selesai tengah
malam, orang-orang arab lama-lama tidak mau diajak shooting lagi. Maklumlah,
mereka bukan berprofesi sebagai pemain. Kebanyakan dari mereka pedagang,
mahasiswa, karyawan bahkan ada yang dokter. Suatu kali pernah si dokter
marah-marah karena shooting sampai malam, padahal sebagai dokter dia tidak
pernah berpraktek sampai malam. Di hari-hari menjelang akhir shooting AAC,
bahkan untuk mengajak gembel Arab pasar Tanah Abang pun tidak bisa. Masya
Alloh!!
Di Kota lama dan Lawang sewu Semarang, kami menghadapi persoalan kamera
terbakar, hujan, berhadapan dengan preman Kota Lama, ruang sempit dan lapuk
karena tua yang membuat set lampu lama. Dengan begitu scene yang seharusnya
diambil jadi banyak terhutang. Untuk membayarnya, kita menunggu jadwal
pemain kosong, Amek dan Iyuth kembali me-loby, iqbal rais kembali membongkar
break down. Hal itu terus menerus mereka lakukan sampai-sampai Amek dan
Iyuth kehilangan muka di hadapan manajer dan pemain. Tidak jarang aku
melakukan improvisasi demi efisiensi. Banyak adegan aku sederhanakan. bahkan
dibuang. Tapi aku cukup senang karena aku bisa merobah salah satu sudut kota
lama semarang menjadi pasar di El-Giza. Aku menghadirkan unta dari Kebun
Binatang Gembiraloka Jogjakarta. Penduduk kota lama Semarang dibikin heboh
dengan munculnya unta secara tiba-tiba di sana.
Shooting paling berat yang aku rasakan pada saat adegan sidang Fahri.
Aku memilih gereja Imanuel Jakarta untuk di set sebagai ruang pengadilan.
Aku menghadirkan lebih dari 300 ekstrass. Semua pemain utama kumpul jadi
satu. Penata kostum, penata make up kewalahan menghadapi banyaknya pemain.
Ini salah satu scene dengan jumlah pemain paling banyak. Aku melihat hal
yang unik di sana. Banyak pemain memakai Jilbab bahkan bercadar, tapi mereka
berada di dalam gereja. Tanda salib bertebaran di atas kepala mereka. Suatu
yang lucu dan menarik aku lihat. Lalu aku ingat, pada saat aku masuk masjid
Al Azhar, bahkan untuk ijin memotret saja tidak mudah. Apalagi shooting.
Tapi di gereja Imanuel ini, aku tidak hanya membawa kamera dan lighting. Aku
bahkan memasukkan teralis penjara sebesar 3 meter persegi didalamnya. Aku
tertawa kalau memikirkan itu .
Tidak terasa, persoalan sudah menjadi bagian dari produksi ini. Malah,
ketika persoalan tidak muncul aku merasa ada yang aneh. Terlepas dari semua
itu, aku senang bisa terlibat dalam persoalan. Terlebih lagi, persoalan itu
bisa terpecahkan sekalipun dengan air mata. Semoga kedepan, aku bisa lebih
dewasa.
Robbana afrigh alaina shabran wa tsabit aghda mana fanshurnaa ala qaumil
kafiriin ...
( ...Ya Alloh, limpahkan kami kesabaran. tegakkanlah kaki kami kembali.
Lindungilah kami
atas orang-orang yang membenci kami ...)
Hingga shooting ini selesai, kami masih berhadapan dengan puluhan
persoalan lagi. Nantikan di bagian IV (AAC hijrah ke India untuk
menghadirkan Sungai Nil, Padang Pasir dan kota) ...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar