Shooting di Jakarta sudah selesai. Aku puas dengan kerja tim AAC yang solid.
Sekalipun berat, tetap commit untuk menyelesaikan film ini apapun
hambatannya. Padahal secara legal, kontrak crew sudah habis 1 bulan
sebelumnya. Artinya, mereka bekerja tanpa ikatan kontrak lagi. Ini yang
membuat aku terharu atas commitment mereka. Terlebih lagi, banyak diantara
mereka non-muslim. Tapi tidak satupun dari mereka yang mengkaitkan
keyakinan itu dengan kualitas kerja mereka.
Sebagaimana sudah direncanakan sebelumnya, meski Allan bisa menyulap
Semarang dan Jakarta jadi kairo. Secara geografis, tidak akan tergambar jika
tidak ada shooting di Kairo. Awalnya producer sudah puas dengan hasil
shooting di Indonesia tanpa perlu shooting di Kairo. Saya sangat keberatan.
Sebenarnya, dari hasil sisa adegan yang belum diambil, hanya membutuhkan
waktu 5 hari saja shooting di kairo. Akhirnya producer mengerti dan menjalin
hubungan dengan local production lain di kairo. Local producer itu sering
menangani film-film asing yang shooting di Cairo. Sebuah perusahaan yang
juga berpengalaman d bidang produksi film. Setelah melihat konsep film AAC,
dia menawarkan harga untuk shooting disana selama 5 hari. Jumlah yang
diajukan sebesar 3 Milyar untuk shooting 5 hari. Nilai yang bahkan di
Indonesia bisa membuat satu film.
'Angka yang tidak masuk akal' kata producerku.
Aku sepakat dengan producerku, meski aku tahu konsekwensi membuat film
sesuai dengan novel Kang Abik memang berbujet besar. Tapi aku tetap tidak
percaya degan penawaran itu. Setelah kita cek quote yang diajukan, aku
melihat item-item yang tidak rasional. Misalnya, makan per orang dia budjet
kan 100 US$ sehari. Padahal pada saat riset di sana, aku bisa makan dengan
25 ribu sehari. Bujet penawaran itu tidak bisa ditawar kecuali kita
mengurangi jumlah hari dan kru. Negosiasi tertutup.
Kemudian muncul gagasan shooting di India dari salah seorang staf
perusahaan MD yang orang India. Dia berjanji bisa menyediakan lokasi yang
kita butuhkan mirip Cairo. Semula aku ragu, tapi setelah ditunjukkan
foto-foto lokasi di India, saya jadi yakin. Dalam foto itu tergambat Sungai
Nil, sudut kota kairo, Taman Al azhar University, Padang Pasir lengkap
dengan unta-unta dan kafilah. Hanya pyramid saja yang tidak ada. Tapi itu
bisa dibuat di studio menggunakan Computer Graphics Imagery (CGI) yang lebih
dikenal dengan special effect.
Disaat persiapan menuju India, tercetus ide untuk tetap bisa shooting di
Kairo dengan dibarengi workshop film buat mahasiswa Indonesia-Al Azhar. Lalu
aku menghubungi PCIM (Pimpinan Cabang Islam Muhammadiyah) . Mereka setuju
dengan ideku. Kita bahkan dibantu KBRI. Di Kairo, aku dan PCIM berencana
menggelar workshop dengan peserta anggota PCIM (mereka adalah mahasiswa
Indonesia yang sekolah di Azhar Univ yang menjadi anggota Muhammadiyah) dan
akan Shooting mengambil suasana kota dengan kamera kecil bersama dengan
mahasiswa peserta workshop tersebut. Biasanya, kegiatan yang mengatasnamakan
mahasiswa tidak perlu ijin berbelit-belit. Maka segala sesuatu dipersiapkan.
Dari Jakarta, tim yang berangkat ke India 20 orang termasuk pemain, tetapi 6
diantaranya berangkat duluan ke Kairo selama 4 hari. 6 orang tersebut
adalah, Fedi Nuril, Faozan Rizal (Kamera), Kasnan (Asisten Kamera), seorang
pengawal alat, Adi molana (tata suara) dan aku.
Producer setuju dengan rencana tersebut. Tapi ditengah persiapan itu,
muncul kendala di pengurusan Visa. Karena hari shooting di India dan Kairo
berurutan, membuat pengurusan visa tarik-tarikan antara keduanya. Waktu kita
hanya 1 minggu sebelum keberangkatan shooting, sementara mengurus Visa di
India membutuhkan waktu 4 sampai 5 hari karena jumlah orang yang akan
berangkat banyak. Begitupun mengurus Visa Kairo. Akhirnya aku minta tolong
pihak PCIM dengan bantuan KBRI menguruskan visa on arrival. KBRI setuju dan
sudah menghubungi pihak emigrasi cairo bahwa akan datang tim dari Indonesia
berjumlah 6 orang untuk workshop. Kamipun senang dengan kabar tersebut.
Terbayang eksotisnya kota kairo, kios-kiosnya, menara-menara masjid yang
menjulang, jalan raya yang macet, kampung- el giza. Bahkan pihak KBRI bisa
menyediakan fasilitas khusus masuk kawasan pyramid dengan bebas. Rasa
optimisku bangkit lagi. Akhirnya . aku bisa shooting di Kairo .
Tapi, lagi-lagi semua itu cuma mimpi. Sesampainya di bagian Check In
Bandara Sukarno-Hatta, aku dan 5 kru lainnya tidak boleh berangkat. Waktu
itu kami berencana terbang ke Kairo dengan Sinagpore Airlines (SQ). Pihak SQ
tidak bisa memberangkatkan kami dengan alasan tidak ada visa. Aku
menjelaskan, bahwa kita dapat fasilitas Visa on Arrival dari KBRI Cairo.
Mereka minta bukti tertulis dari pihak KBRI sebagai pegangan. Aku tunjukkan
undangan dari PCIM untuk workshop atas nama Muhammadiyah ke pihak SQ. Mereka
tidak mau terima. Yang mereka minta adalah surat tertulis yang menjamin 6
orang yang diterbangkan SQ bisa diterima di Kairo. Itu tanggungjawab
Airlines atas keselamatan penumpang. Aku segera telpon pihak PCIM untuk
menghubungi KBRI. Ternyata hari itu kantor KBRI libur. Sekalipun bisa
terhubung secara pribadi dengan bagian konsulat KBRI, tapi untuk urusan
administrasi harus melalui kantor. Akhirnya, kami tidak jadi berangkat.
Kamera yang sudah kita sewa, tiket yang sudah kita beli dan segala harapan
untuk bisa shooting di Kairo buyar . Dada ini terasa sakit sekali. Dalam
perjalanan meninggalkan bandara Soekarno-Hatta, tanpa sadar, air mataku
meleleh lagi. Ya Alloh, Apakah aku terlalu kotor memproduksi film ini, maka
kau berikan hambatan buatku untuk yang terbaik?
Tidak ada harapan lagi kecuali shooting ke India saja. Untuk saat ini,
sebuah kemewahan bisa membayangkan film ini sesuai dengan harapan Kang Abik
dan pembaca fanatik AAC. Yang bisa aku lakukan hanyalah menyelesaikan film
ini semaksimal yang aku bisa.
Pesawat Malaysia Airlines take off dari Jakarta membawa 20 Kru dan
pemain AAC beserta dua kopor berisi Kostum pemain, 3 kopor berisi property
keperluan Artistik dan dua kopor lain berisi bahan baku film 35mm serta
kabel-kabel. Kira-kira 8 jam perjalanan, kami mendarat di Banglore untuk
transit. Saat itu malam hari. Udara agak dingin. Pesawat yang membawa kita
ke Bombay baru besok pagi sekitar jam 10 take off dari bandara. Menurut
travel agent di Jakarta, di Banglore kita disediakan penginapan. Tetapi
kenyataannya bukan penginapan sebagaimana layaknya sebuah hotel transit di
bandara international. Kita disediakan satu apartement dengan 6 kamar.
Padahal kami berjumlah 20 orang dimana tidak semuanya laki-laki. Kopor kami
juga banyak. Tidak layak buat kami untuk menempati satu apartement. Malam
itu sudah jam 12 malam. Pihak administrasi apartement sudah tutup untuk
meminta tambahan satu apartement lagi. Kami kebingungan sendiri. Setelah
beberapa lama terkatung-katung, salah seorang pembantu apartement lain
menawari bisa memakai apartementnya kalau cuma buat semalam, karena
pemiliknya sedang keluar kota. Akhirnya kami patungan menyewanya. Apartement
itu untuk crew dan pemain perempuan. Aku bersama crew laki-laki lainnya
saling tumpang tindih di apartement satunya. Aku dan Rajish (Make up artist)
tidur di sofa depan. Faozan Rizal dan tim kamera tumpuk-tumpukan satu kamar.
Fedi, Oka dan Iqbal tidur satu ranjang bertiga. Lainnya tidur sekenanya.
Tepat jam 11 siang kami meninggalkan Banglore menuju Bombay. Kami sudah
dijemput sebuah bis yang akan membawa kami 15 jam menuju Jodhpur. Bayangan
kami, Jodhpur adalah kota kecil yang tidak ada bandaranya disana. Tapi
ternyata Jodhpur adalah kota wisata. Banyak turis eropa-Amerika datang
kesana menggunakan pesawat, apalagi di bulan-bulan November. Bandaranya-pun
lebih bagus dari Halim Perdanakusuma. Jadi penggunaan bis semata-mata buat
ngirit bujet produksi, mengingat harga tiket Bombay-Jodhpur di bulan-bulan
libur naik. Kami cuma menghela nafas. 15 jam perjalanan, bayangan kami,
seperti perjalanan Jakarta Surabaya. Tidak apalah, aku bisa istirahat di
bis, pikirku.
Setelah keluar dari bandara Bombay dengan tumpukan kopor-kopor, kami
melihat bis yang disediakan kami kecil. Warnanya kuning. Bis tersebut bukan
selayaknya kendaraan tempuh Jakarta-Surabaya. Bis itu seperti bis
Jakarta-Sukabumi yang diberi AC. Tempat duduknya sempit hanya memuat 20
orang saja. Sedangkan kopor-kopor kami banyak. Aku komplain dengan orang
india (staff MD) yang mengurusi kami disana. Dia bilang, bis ini disediakan
berdasarkan bujet dari producer. Kami tetap tidak mau naik. Aku melihat
wajah teman-teman kusut. Tika (line producer AAC) marah dan meminta local
unit menyediakan tiket pesawat. Sayangnya, tiket pesawat ke jodhpur habis
sampai 3 hari kedepan. Setelah berdebat lama, akhirnya kami disediakan satu
mobil kijang khusus untuk kopor-kopor. Allan menyertai kopor-kopor itu di
mobil Kijang. Yang lainnya naik bis. Fedi yang berkaki panjang menduduki
bagian belakang tepat di selasar tengah bis diapit Rianti, Prita (Pencatat
Script), dan Clarissa. Ditengah diisi Oka, Pao, Tarmiji, Kasnan (tim
kamera), Adi molana dan pak Rajish. Di depan ada Aku, Retno Damayanti
(kostum), mbak Tia (asisten Retno) dan Tika. Seorang supir bernama Ganesh
membawa kami membelah negeri India melintasi Gujarat. Sebuah perjalanan
panjang dan melelahkan terbayang .
Perjalanan Bombay-Jodhpur mirip seperti perjalanan Jakarta-Surabaya.
Padang Ilalang terbentang di kiri kanan. Rumah-rumah gubuk, warung-warung
tempat mangkal bis dan Container berderetan sepanjang jalan seperti di film
Iran Café Transit, jajaran rumah-rumah pedesaan diselingi pohon-pohon besar
dan sawah-sawah tandus berseliweran. Pemandangan luar biasa buatku. Eksotis.
Bis kami melaju bersama dengan puluhan bahkan ratusan truk-truk. Kadang bis
kami berhenti sekedar minum teh hangat India yang dicampur susu bersama
sopir-sopir berkulit hitam. Di perbatasan Gujarat. Kami mendapat persoalan.
Bis kami dilarang melintasi perbatasan karena dokumen tidak lengkap. Selama
2 jam kami dicuekin, sementara Ganesh mondar-mandir dari post satu ke post
lainnya yang jaraknya 1 km untuk menyelesaikan administrasi. Terlihat dia
begitu stress, dia meminjam Hp Tika untuk menghubungi seseorang. Terlihat
dari cara bicaranya, Ganesh sedang bertengkar. Mungkin orang itu yang
menyebabkan Ganesh mendapat persoalan. Kami nyaris balik ke Bombay karena
tidak ada ijin melintas. Ditengah situasi panik itu Rianti, Clarrisa, Oka
dan Fedi didatangi militer bersenapan karena mereka foto-foto.
'Ini bukan tempat wisata!' kata Militer itu.
Terlihat wajah Rianti pucat karena takut. Akhirnya Ganesh menjelaskan
ketidaktahuan kami. Merekapun mengerti. Setelah 2 jam lewat dengan perasaan
tidak menentu, kami bisa melintasi perbatasan, melanjutkan perjalanan atas
perjuangan Ganesh. Malam yang panjang terasa. Sekalipun sulit buat kami
tidur di tempat sempit seperti itu, kami tidak bisa melewatkan rasa ngantuk.
Pagi berikutnya kami berhenti di sebuah kota kecil. Kami menyewa losmen
kecil buat mandi dan sarapan. Kami istirahat selama 4 jam memberikan
kesempatan Ganesh tidur. Di tempat itu kami diliatin penduduk sekitar.
Apalagi Rianti dan Clarissa. Orang-orang India memiliki keramahan berbeda
dengan Indonesia. Apalagi bukan di kota besar seperti Bombay, Delhi atau
Madrass. Suara mereka yang keras membuat kami mengira mereka marah. Tetapi
sebenarnya tidak. Di tempat itu kami baru sadar bahwa kami sudah menempuh 15
jam perjalanan. Tetapi kami masih berada setengah perjalanan menuju Jodhpur.
Setelah membuka peta baru kami sadar berapa jarak sebenarnya dan berapa
waktu tempuh sebenarnya antara Bombay-Jodhpur. Bombay-Jodhpur berjarak
850km, Kira-kira 24 jam waktu perjalanan darat jika ditempuh secara
non-stop. Kami merasa ditipu. Fedi yang biasanya diam, kini marah-marah, dia
protes ke producer atas perlakuan ini. Jawab producerku, pihak MD tidak tahu
menau soal ini. Mereka juga minta maaf. Pak Rajish, salah satu karyawan MD
dari India bagian make up artis banyak membantu kami. Setidaknya membantu
kami berkomunikasi. Ternyata, dibalik semua itu ada yang tidak jujur,
memanfaatkan situasi ini untuk mengambil keuntungan. Aku marah, tetapi aku
tahu itu tidak ada gunanya. Akibat dari kesalahpahaman ini kami kehilangan
waktu dan tenaga yang seharusnya bisa dimanfaatkan buat Shooting. Kami cuma
bisa pasrah .
Jam 8 malam, tepat 30 jam perjalanan dari Bombay, kami masuk Hotel.
Alhamdulillah, akhirnya kami bisa merebahkan diri di tempat yang layak.
Diatas tempat tidur aku melepaskan pikiran. Sepanjang hidupku, tidak pernah
aku membayangkan melintasi negeri Gujarat naik bis. Tanpa asuransi, tanpa
perlindungan apapun. Untung tidak ada teroris menghadang kami. Sungguh, aku
sudah tidak kuat. Aku ingin lari saja dari produksi. Toh, tidak ada jaminan
apapun buatku untuk menyelesaikan film ini? Uang? Demi Alloh, gajiku tidak
sebanding dengan persoalan yang aku hadapi. Kalau orang mengira aku
melakukan ini semua demi uang? Demi jualan? Kehormatan? Wallohi, orang itu
benar-benar picik. Tidak ada keuntungan materi yang aku dapat di film ini.
Semata-mata hanya idealismeku saja yang berharap Film Indonesia tidak hanya
diisi oleh Horor dan percintaan remaja Kota. Tapi apa itu idealisme? Apakah
Kang Abik dan jutaan pembaca AAC mengerti soal idealisme ini? Apa yang
mereka bisa berikan buat mengganti segudang persoalan kami disini? Mereka
tidak lebih dari sekedar penonton yang menuntut hiburan atau
membanding-bandingk an Film dengan Novelnya. Lantas jika tidak sama dengan
Novelnya terus mencaci maki, menganggap bodoh dan kafir sutradara yang
membuat. Karena hal-hal islami dalam Novel tidak tampak, tidak terasa.
Lagi-lagi dadaku sesak. Tapi aku tidak bisa lari. Aku sudah berjanji
kepada diriku, anakku dan ibuku untuk memberikan yang terbaik.
'Kalau kamu sudah bisa membuat film. Buatlah film tentang agamamu.' Kata
ibuku yang terus menerus terngiang.
Pagi harinya aku mulai shooting. Dan persoalan seperti tidak selesai.
Dari mulai peralatan yang kami pakai sudah ditinggalkan industri India 5
tahun yang lalu alias butut: Lampu-lampu yang fliker (menghasilkan cahaya
kelap-kelip seperti neon yang habis watt nya), Kamera tua yang ketika
dipakai mengeluarkan bunyi berisik, generator kami yang lebih layak dipakai
buat menyalakan mesin pemarut kelapa dibanding buat shooting. Lalu kru-kru
India yang disediakan untuk membantu kami bukan kru profesional. Di bagian
akomodasi makanan kami selalu datang telat sehingga banyak yang protes.
Tidak hanya kru Jakarta saja yang protes, kru India juga begitu. Suatu kali
pernah mereka mogok kerja tidak shooting karena hanya di kasih makan sekali
sehari. Padahal shooting sampai jam 12 malam. Di lokasi gurun, kami harus
mendaki gunung pasir dengan jalan kaki sebelum menuju lokasi utama. Kami
menggunakan Unta buat mengangkat Kamera dan perlengkapannya. Kaki-kaki kami
sakit tertusuk tanaman duri. Bibir kami banyak yang pecah karena panas
matahari. Sebelum mencapai tempat lokasi, kami istirahat mirip
kafilah-kafilah yang kehausan ditengah sahara.
Tapi dari semua kesulitan itu, Alhamdulillah aku bisa menyelesaikannya
dengan baik. Lokasi yang aku dapatkan luar biasa. Kecuali lokasi Gurun,
lokasi Nil, Taman, Rumah Sakit berada di satu hotel peninggalan Kasultanan
Pakistan. Lokasi gurun Pasir kami tempuh 4 jam perjalanan dari Jodhpur.
Melelahkan tapi juga menyenangkan.
3 hari kami melakukan shooting dan 2 hari sisanya adalah perjalanan. Di
hari ketiga, rombongan kembali ke Jakarta. Aku bersama 20 cann film hasil
shooting di Jodhpur terbang menuju Madras untuk editing dan processing lab.
Sastha Sunu, editor Ayat-Ayat Cinta sudah menungguku disana. Sampai tulisan
ini dikirim, aku masih menyelesaikan proses film Ayat-Ayat Cinta yang
semakin lama semakin rumit secara teknis. Sehingga mengakibatkan jadwal
Tayang Ayat-Ayat Cinta mundur di bulan Januari. Aku tidak berani menjelaskan
kerumitan itu, karena sifatnya technical sekali. Pendeknya, produksi
Ayat-Ayat Cinta adalah produksi yang penuh dengan cobaan dibandingkan 6
filmku sebelumnya.
Semoga Cobaan ini membuktikan Cinta Alloh masih bersama Kami semua .
December 14, 2007 | Permalink
AYAT-AYAT CINTA
TENTANG KARAKTER FAHRI
Ini Film ketujuh setelah 'Get Married' dan ' Ledhek'. Dua-duanya akan rilis
lebaran ini. Ayat-ayat Cinta di proyeksikan untuk Idul Adha, Natal dan Tahun
Baru. Bisa kebayang bukan siapa yang akan menonton film ini.
Membaca Novel Ayat-Ayat Cinta, membuat saya mengantuk hingga setengah buku.
Kantuk itu hilang pada saat bab mulai mengarah ke konflik. Yaitu ketika
Fahri difitnah, masuk penjara dengan vonis mati, lalu seorang gadis kristen
koptik bernama Maria datang menyelamatkan dengan 'syarat' kalau dia harus
dinikahi dulu. Padahal Fahri saat itu sudah beristeri seorang gadis
Turki-Jerman, Kaya dan cantik bernama Aisha. Kenapa mendadak saya tidak
mengantuk? Buat saya disitulah letak religiusnya. Buat saya, religius bukan
semata-mata mulut berucap doa dan puja-puji kepada Tuhan; religius juga
bukan aktifitas menyeru tentang kebaikan di atas mimbar, di TV, Radio atau
majalah sambil berdendang asik dengan ayat-ayat Quran dan Hadist. Bagi
saya, religius adalah ketika manusia berada dalam kesadaran penuh atas
ketidaksempurnaan. Ketidaksempurnaan itu membuat manusia merasa dirinya
tolol, merunduk, bersujud dan ... bertawaqal. Saya merasa pada saat itu
Fahri menjadi tokoh yang sangat saya cintai. Sebelumnya, Fahri adalah
malaikat. Fahri adalah lelaki sempurna, yang menurut saya, tidak ada di
dunia ini. Sekalipun Habiburrahman bilang sosok Fahri banyak kita temui di
Cairo, saya tetap tidak percaya. Saya memang melihat banyak Fahri disana.
Seorang dengan pengetahuan agama Islam tinggi. Seorang rendah hati, pejuang
hidup, sederhana dan pintar. Sekalipun saya meragukan kemampuan menguasai 4
bahasa (Inggris, Jerman, Arab dan Indonesia) sekaligus. Keraguan saya juga
bertambah ketika dirinya dicintai oleh 4 orang gadis cantik dengan
karakteristik berbeda-beda: Maria, seorang gadis cantik, pintar, kritis,
sekalipun seorang kristen tetapi sangat mengagumi Al quran. Nurul, seorang
gadis Indonesia, anak kyai besar di Jombang, seorang ketua Widah (sebuah
perkumpulan anak-anak Al Azhar di Cairo), cantik, sederhana dan tentunya
pintar. Lalu Noura, seorang gadis mesir yang dianiyaya ayahnya, dipaksa
dijual menjadi pelacur. Juga seorang gadis cantik dan pintar. Terakhir,
Aisha, seorang gadis keturunan Jerman-Turki- Palsetina. Sebuah paduan
sempurna yang saya tidak perlu menjelaskan seperti apa bentuknya. Pastinya
Cuantiik nemen rek, begitu kata orang jawa timur. Tidak hanya itu, dia juga
kaya raya, setia, pintar dan solehah. Bahkan Aisha juga seorang perempuan
yang merelakan suaminya untuk poligami. Duhai, lelaki mana yang tidak jatuh
hati sama perempuan macam Aisha? Dan Fahri, tokoh ciptaan kang Abik yang
mendapatkan hidayah itu. Bagi kang Abik, Aisha adalah bidadari yang pantas
buat Fahri yang 'sempurna'. Sungguh, saya tidak tahan melihat sosok Fahri
yang tanpa cacat itu.
Seorang kreator adalah Tuhan bagi ciptaannya. Tidak hanya di film, dalam
ranah sastra, apalagi sastra modern, seorang penulis memiliki hak penuh
(sebagaimana Tuhan) untuk menciptakan karakter, set dan cerita. Tapi
masalahnya kreator bukan sepenuhnya Tuhan. Kreator punya tanggungjawab
meyakinkan penonton atau pembaca perihal karakternya. Ada logika
'Ruang-Lingkup' yang dihadirkan untuk mewujudkan kesinambungan dunia
realitas karakter dengan dunia realitas penonton ataupun pembaca. Dalam hal
ini, Kang Abik menciptakan tokoh Fahri yang jauh dari logika 'Ruang-Lingkup'
tersebut, setidaknya cuma bab-bab awal sampai tengah. Selebihnya, Fahri
menjadi manusia biasa. Hal itu yang membuat saya tertarik.
Oleh sebab itu pertama kali yang saya dan Salman Aristo lakukan sebelum
membuat film Ayat-Ayat Cinta, adalah membongkar tokoh Fahri. Itikad ini saya
lakukan bukan saya tidak respect dengan tokoh Fahri ciptaan kang Abik.
Melainkan justru saya ingin Fahri menjadi representasi lelaki muslim.
Representasi penonton.
Di dalam Novel digambarkan, Fahri adalah seorang lelaki yang tidak hanya
soleh. Tapi juga seorang pemimpin Flat, panutan, kakak bagi
yunior-yuniornya, seorang yang optimistik dan percaya diri, ganteng dan
pintar (menguasai 4 bahasa). Apabila tokoh seperti ini dijabarkan lewat
tulisan, akan dengan mudah menarik simpatik pembaca. Tapi jika di visualkan?
Mari kita lihat Ongky Alexander di Catatan si Boy, atau Sakhru khan di
film-film India. Apakah saya akan membuat film yang meletakkan karakter
dalam dunia mimpi seperti sinetron-sinetron Indonesia? Tentu saja Tidak.
Fahri di Film Ayat-Ayat Cinta adalah sosok yang lugu, ragu dan tidak terlalu
percaya diri. Lugu mencerminkan sifat sederhana dan apa adanya. Tidak
neko-neko. Ragu lebih kepada sikap yang selalu hati-hati. Karena itu Fahri
selalu dekat dengan Quran dan Hadist. Setiap menghadapi persoalan, Fahri
bukan seperti superman yang mendadak menjadi jagoan. Justru sebaliknya,
Fahri sangat hati-hati dan tidak show off. Hal ini tampak nanti pada saat
adegan di Metro. Di Novel, saya mendapatkan kesan Fahri seorang jagoan,
seorang Nabi yang sedang memberikan wejangan umatnya. Saya tidak bisa
membayangkan jika itu di filmkan. Pasti jadinya akan seperti sinetron
religius yang berisi ceramah-ceramah secara verbal. Karena Film adalah
bahasa Visual, maka saya menghindari verbalitas. Di Film, Fahri menjadi
lelaki sederhana yang terlibat pertengkaran hanya karena membela seorang
perempuan. Quran dan Hadist menjelaskan itu yang memberikan alasan Fahri
bertindak. Tentu saja tidak menjadi pendekar Silat. Melainkan sebagaimana
dirinya yang sekolah di Azhar, Fahri mencoba menjelaskan perihal adab
seorang Muslim menghadapi Tamu (ahlul zimah) yang senantiasa dilindungi
kehormatannya. Tapi karena sikap Fahri yang lugu menghadapi lelaki Arab
besar yang emosional, Fahri justru mendapatkan pukulan karena dianggap SOK
TAHU dan SOK PINTAR. Bibir Fahri sedikit berdarah akibat pukulan itu. Pada
saat itulah Fahri justru mendapatkan simpatik dari Aisha-Alicia dan
penumpang Metro. Simpatik itu bukan karena Fahri bisa meredamkan emosi orang
Arab sebagaimana di Novel. melainkan karena keberanian fahri menghadapi
persoalan sekalipun kalah. Adegan itu juga meletakkan sosok Fahri sebagai
manusia yang tidak sempurna, bisa berdarah dan lemah. Buat saya, ini lebih
realistis.
Oleh sebab itu pemilihan Fedy Nuril menjadi Fahri adalah hal yang menurut
saya tepat. Dalam diri Fedy ada keraguan dan kepolosan. Fedy bahkan tidak
mengerti bagaimana meletakkan kakinya pada saat tahiyat akhir. Tapi justru
dengan begitu, Fedy terlihat berusaha. Fedy yang tidak sempurna mencoba
belajar menjadi sempurna. Kebanyakan yang casting menjadi Fahri, salah
menafsirkan Fahri sebagai sosok religius. Mereka menampilkan diri mereka
sangat suci. bahkan ketika melantunkan satu ayat, terlalu over dramatic
sebagaimana ustadz-ustadz yang ada di TV dan Radio. Padahal tanpa mereka
berbuat begitupun, sesungguhnya ayat Quran sangat Indah dan menyentuh hati.
Di Flatnya, dalam Novel ditulis kalau Fahri seorang pemimpin sekligus abang
bagi yunior-yuniornya. Terus terang saya sangat risih dengan tingakatan
Senior-Junior. Hal ini menampakkan sisi feodalisme yang justru bukan ciri
Islam. Padahal saya kerap menemui itu di pesantren-pesantren . Di Film, saya
menempatkan Fahri tetap seorang pemimpin Flat yang bertanggungjawab atas
kebersihan dan kelangsungan aturan di Flat. Tapi bukan seorang Senior yang
men jadi panutan seperti seorang kyai menjadi panutran Santri. Sosok Saiful
yang di gambarkan kang Abik sebagai Yunior, justru saya tempatkan menjadi
sparing partner Fahri. Tingkat pendidikan Saiful sama dengan Fahri. Keduanya
sama-sama belajar agama. Bedanya, Fahri terlihat sebagai karakter yang
konservatif, Saiful justru lebih moderat. seperti Gus Dur dan Gus Solah
(solahudin Wahid). Gus Dur yang kadang nyeleneh dan berani adalah Saiful,
Gus Solah yang hati-hati dan cenderung lurus adalah Fahri. Dengan demikian,
Fahri tidak menjadi sosok paling benar di Flatnya. Saiful menjadi teman
tidak hanya dalam diskusi Islam, tetapi teman curhat ketika Fahri
mendapatkan masalah. Pada saat Syeh Ustman menawari talaqi ke Fahri. Saiful
yang diajak bicara. Begitu juga saat Fahri di fitnah dan masuk penjara.
Saiful menjadi sahabat setia.
Perobahan karakter tersebut didasari atas berbagai pengamatan kami terhadap
penonton Indonesia. Sudah jarang kita temukan film-film sekarang yang
menempatkan sosok seperti si Boy dalam Catatan Si Boy. Film paling laris
Indonesia Ada Apa Dengan Cinta yang melahirkan idola Nikolas Saputra, juga
bukan seorang yang sempurna. Lelaki tanpa teman, sinis, terkesan kasar sama
perempuan, hanya punya seorang ayah yang hidup dalam idealismenya, tetapi
memiliki kelembutan dan cinta yang tulus. Kesempurnaan di era paska
reformasi justru menjadi pertanyaan. Bahkan di negara berkembang sekalipun.
Saya mempunyai harapan film ini tidak hanya sekedar film alternative di
tengah bombardir Horor dan roman cinta remaja. Film ini saya harapkan
menjadi citra muslim di Indonesia bahkan Internasional. Bahwa Islam adalah
agama penuh cinta kasih. Penuh perenungan atas ketidaksempurnaan
manusia-manusia muslim didalamnya. Bukan justru sebaliknya, radikal, terlalu
meyakini atas kebenaran, dan tidak toleran.
'Wala tusho'ir khaddakallinas, wa la tansyi fil ardhi maroha, Innalloha la
yuhibbu kulla mukhtalin fakhur' (Lukman 18)
... Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia, dan janganlah
berjalan di bumi dengan Angkuh. Sungguh Alloh tidak menyukai orang yang
sombong dan membanggakan diri ...
Sekalipun berat, tetap commit untuk menyelesaikan film ini apapun
hambatannya. Padahal secara legal, kontrak crew sudah habis 1 bulan
sebelumnya. Artinya, mereka bekerja tanpa ikatan kontrak lagi. Ini yang
membuat aku terharu atas commitment mereka. Terlebih lagi, banyak diantara
mereka non-muslim. Tapi tidak satupun dari mereka yang mengkaitkan
keyakinan itu dengan kualitas kerja mereka.
Sebagaimana sudah direncanakan sebelumnya, meski Allan bisa menyulap
Semarang dan Jakarta jadi kairo. Secara geografis, tidak akan tergambar jika
tidak ada shooting di Kairo. Awalnya producer sudah puas dengan hasil
shooting di Indonesia tanpa perlu shooting di Kairo. Saya sangat keberatan.
Sebenarnya, dari hasil sisa adegan yang belum diambil, hanya membutuhkan
waktu 5 hari saja shooting di kairo. Akhirnya producer mengerti dan menjalin
hubungan dengan local production lain di kairo. Local producer itu sering
menangani film-film asing yang shooting di Cairo. Sebuah perusahaan yang
juga berpengalaman d bidang produksi film. Setelah melihat konsep film AAC,
dia menawarkan harga untuk shooting disana selama 5 hari. Jumlah yang
diajukan sebesar 3 Milyar untuk shooting 5 hari. Nilai yang bahkan di
Indonesia bisa membuat satu film.
'Angka yang tidak masuk akal' kata producerku.
Aku sepakat dengan producerku, meski aku tahu konsekwensi membuat film
sesuai dengan novel Kang Abik memang berbujet besar. Tapi aku tetap tidak
percaya degan penawaran itu. Setelah kita cek quote yang diajukan, aku
melihat item-item yang tidak rasional. Misalnya, makan per orang dia budjet
kan 100 US$ sehari. Padahal pada saat riset di sana, aku bisa makan dengan
25 ribu sehari. Bujet penawaran itu tidak bisa ditawar kecuali kita
mengurangi jumlah hari dan kru. Negosiasi tertutup.
Kemudian muncul gagasan shooting di India dari salah seorang staf
perusahaan MD yang orang India. Dia berjanji bisa menyediakan lokasi yang
kita butuhkan mirip Cairo. Semula aku ragu, tapi setelah ditunjukkan
foto-foto lokasi di India, saya jadi yakin. Dalam foto itu tergambat Sungai
Nil, sudut kota kairo, Taman Al azhar University, Padang Pasir lengkap
dengan unta-unta dan kafilah. Hanya pyramid saja yang tidak ada. Tapi itu
bisa dibuat di studio menggunakan Computer Graphics Imagery (CGI) yang lebih
dikenal dengan special effect.
Disaat persiapan menuju India, tercetus ide untuk tetap bisa shooting di
Kairo dengan dibarengi workshop film buat mahasiswa Indonesia-Al Azhar. Lalu
aku menghubungi PCIM (Pimpinan Cabang Islam Muhammadiyah) . Mereka setuju
dengan ideku. Kita bahkan dibantu KBRI. Di Kairo, aku dan PCIM berencana
menggelar workshop dengan peserta anggota PCIM (mereka adalah mahasiswa
Indonesia yang sekolah di Azhar Univ yang menjadi anggota Muhammadiyah) dan
akan Shooting mengambil suasana kota dengan kamera kecil bersama dengan
mahasiswa peserta workshop tersebut. Biasanya, kegiatan yang mengatasnamakan
mahasiswa tidak perlu ijin berbelit-belit. Maka segala sesuatu dipersiapkan.
Dari Jakarta, tim yang berangkat ke India 20 orang termasuk pemain, tetapi 6
diantaranya berangkat duluan ke Kairo selama 4 hari. 6 orang tersebut
adalah, Fedi Nuril, Faozan Rizal (Kamera), Kasnan (Asisten Kamera), seorang
pengawal alat, Adi molana (tata suara) dan aku.
Producer setuju dengan rencana tersebut. Tapi ditengah persiapan itu,
muncul kendala di pengurusan Visa. Karena hari shooting di India dan Kairo
berurutan, membuat pengurusan visa tarik-tarikan antara keduanya. Waktu kita
hanya 1 minggu sebelum keberangkatan shooting, sementara mengurus Visa di
India membutuhkan waktu 4 sampai 5 hari karena jumlah orang yang akan
berangkat banyak. Begitupun mengurus Visa Kairo. Akhirnya aku minta tolong
pihak PCIM dengan bantuan KBRI menguruskan visa on arrival. KBRI setuju dan
sudah menghubungi pihak emigrasi cairo bahwa akan datang tim dari Indonesia
berjumlah 6 orang untuk workshop. Kamipun senang dengan kabar tersebut.
Terbayang eksotisnya kota kairo, kios-kiosnya, menara-menara masjid yang
menjulang, jalan raya yang macet, kampung- el giza. Bahkan pihak KBRI bisa
menyediakan fasilitas khusus masuk kawasan pyramid dengan bebas. Rasa
optimisku bangkit lagi. Akhirnya . aku bisa shooting di Kairo .
Tapi, lagi-lagi semua itu cuma mimpi. Sesampainya di bagian Check In
Bandara Sukarno-Hatta, aku dan 5 kru lainnya tidak boleh berangkat. Waktu
itu kami berencana terbang ke Kairo dengan Sinagpore Airlines (SQ). Pihak SQ
tidak bisa memberangkatkan kami dengan alasan tidak ada visa. Aku
menjelaskan, bahwa kita dapat fasilitas Visa on Arrival dari KBRI Cairo.
Mereka minta bukti tertulis dari pihak KBRI sebagai pegangan. Aku tunjukkan
undangan dari PCIM untuk workshop atas nama Muhammadiyah ke pihak SQ. Mereka
tidak mau terima. Yang mereka minta adalah surat tertulis yang menjamin 6
orang yang diterbangkan SQ bisa diterima di Kairo. Itu tanggungjawab
Airlines atas keselamatan penumpang. Aku segera telpon pihak PCIM untuk
menghubungi KBRI. Ternyata hari itu kantor KBRI libur. Sekalipun bisa
terhubung secara pribadi dengan bagian konsulat KBRI, tapi untuk urusan
administrasi harus melalui kantor. Akhirnya, kami tidak jadi berangkat.
Kamera yang sudah kita sewa, tiket yang sudah kita beli dan segala harapan
untuk bisa shooting di Kairo buyar . Dada ini terasa sakit sekali. Dalam
perjalanan meninggalkan bandara Soekarno-Hatta, tanpa sadar, air mataku
meleleh lagi. Ya Alloh, Apakah aku terlalu kotor memproduksi film ini, maka
kau berikan hambatan buatku untuk yang terbaik?
Tidak ada harapan lagi kecuali shooting ke India saja. Untuk saat ini,
sebuah kemewahan bisa membayangkan film ini sesuai dengan harapan Kang Abik
dan pembaca fanatik AAC. Yang bisa aku lakukan hanyalah menyelesaikan film
ini semaksimal yang aku bisa.
Pesawat Malaysia Airlines take off dari Jakarta membawa 20 Kru dan
pemain AAC beserta dua kopor berisi Kostum pemain, 3 kopor berisi property
keperluan Artistik dan dua kopor lain berisi bahan baku film 35mm serta
kabel-kabel. Kira-kira 8 jam perjalanan, kami mendarat di Banglore untuk
transit. Saat itu malam hari. Udara agak dingin. Pesawat yang membawa kita
ke Bombay baru besok pagi sekitar jam 10 take off dari bandara. Menurut
travel agent di Jakarta, di Banglore kita disediakan penginapan. Tetapi
kenyataannya bukan penginapan sebagaimana layaknya sebuah hotel transit di
bandara international. Kita disediakan satu apartement dengan 6 kamar.
Padahal kami berjumlah 20 orang dimana tidak semuanya laki-laki. Kopor kami
juga banyak. Tidak layak buat kami untuk menempati satu apartement. Malam
itu sudah jam 12 malam. Pihak administrasi apartement sudah tutup untuk
meminta tambahan satu apartement lagi. Kami kebingungan sendiri. Setelah
beberapa lama terkatung-katung, salah seorang pembantu apartement lain
menawari bisa memakai apartementnya kalau cuma buat semalam, karena
pemiliknya sedang keluar kota. Akhirnya kami patungan menyewanya. Apartement
itu untuk crew dan pemain perempuan. Aku bersama crew laki-laki lainnya
saling tumpang tindih di apartement satunya. Aku dan Rajish (Make up artist)
tidur di sofa depan. Faozan Rizal dan tim kamera tumpuk-tumpukan satu kamar.
Fedi, Oka dan Iqbal tidur satu ranjang bertiga. Lainnya tidur sekenanya.
Tepat jam 11 siang kami meninggalkan Banglore menuju Bombay. Kami sudah
dijemput sebuah bis yang akan membawa kami 15 jam menuju Jodhpur. Bayangan
kami, Jodhpur adalah kota kecil yang tidak ada bandaranya disana. Tapi
ternyata Jodhpur adalah kota wisata. Banyak turis eropa-Amerika datang
kesana menggunakan pesawat, apalagi di bulan-bulan November. Bandaranya-pun
lebih bagus dari Halim Perdanakusuma. Jadi penggunaan bis semata-mata buat
ngirit bujet produksi, mengingat harga tiket Bombay-Jodhpur di bulan-bulan
libur naik. Kami cuma menghela nafas. 15 jam perjalanan, bayangan kami,
seperti perjalanan Jakarta Surabaya. Tidak apalah, aku bisa istirahat di
bis, pikirku.
Setelah keluar dari bandara Bombay dengan tumpukan kopor-kopor, kami
melihat bis yang disediakan kami kecil. Warnanya kuning. Bis tersebut bukan
selayaknya kendaraan tempuh Jakarta-Surabaya. Bis itu seperti bis
Jakarta-Sukabumi yang diberi AC. Tempat duduknya sempit hanya memuat 20
orang saja. Sedangkan kopor-kopor kami banyak. Aku komplain dengan orang
india (staff MD) yang mengurusi kami disana. Dia bilang, bis ini disediakan
berdasarkan bujet dari producer. Kami tetap tidak mau naik. Aku melihat
wajah teman-teman kusut. Tika (line producer AAC) marah dan meminta local
unit menyediakan tiket pesawat. Sayangnya, tiket pesawat ke jodhpur habis
sampai 3 hari kedepan. Setelah berdebat lama, akhirnya kami disediakan satu
mobil kijang khusus untuk kopor-kopor. Allan menyertai kopor-kopor itu di
mobil Kijang. Yang lainnya naik bis. Fedi yang berkaki panjang menduduki
bagian belakang tepat di selasar tengah bis diapit Rianti, Prita (Pencatat
Script), dan Clarissa. Ditengah diisi Oka, Pao, Tarmiji, Kasnan (tim
kamera), Adi molana dan pak Rajish. Di depan ada Aku, Retno Damayanti
(kostum), mbak Tia (asisten Retno) dan Tika. Seorang supir bernama Ganesh
membawa kami membelah negeri India melintasi Gujarat. Sebuah perjalanan
panjang dan melelahkan terbayang .
Perjalanan Bombay-Jodhpur mirip seperti perjalanan Jakarta-Surabaya.
Padang Ilalang terbentang di kiri kanan. Rumah-rumah gubuk, warung-warung
tempat mangkal bis dan Container berderetan sepanjang jalan seperti di film
Iran Café Transit, jajaran rumah-rumah pedesaan diselingi pohon-pohon besar
dan sawah-sawah tandus berseliweran. Pemandangan luar biasa buatku. Eksotis.
Bis kami melaju bersama dengan puluhan bahkan ratusan truk-truk. Kadang bis
kami berhenti sekedar minum teh hangat India yang dicampur susu bersama
sopir-sopir berkulit hitam. Di perbatasan Gujarat. Kami mendapat persoalan.
Bis kami dilarang melintasi perbatasan karena dokumen tidak lengkap. Selama
2 jam kami dicuekin, sementara Ganesh mondar-mandir dari post satu ke post
lainnya yang jaraknya 1 km untuk menyelesaikan administrasi. Terlihat dia
begitu stress, dia meminjam Hp Tika untuk menghubungi seseorang. Terlihat
dari cara bicaranya, Ganesh sedang bertengkar. Mungkin orang itu yang
menyebabkan Ganesh mendapat persoalan. Kami nyaris balik ke Bombay karena
tidak ada ijin melintas. Ditengah situasi panik itu Rianti, Clarrisa, Oka
dan Fedi didatangi militer bersenapan karena mereka foto-foto.
'Ini bukan tempat wisata!' kata Militer itu.
Terlihat wajah Rianti pucat karena takut. Akhirnya Ganesh menjelaskan
ketidaktahuan kami. Merekapun mengerti. Setelah 2 jam lewat dengan perasaan
tidak menentu, kami bisa melintasi perbatasan, melanjutkan perjalanan atas
perjuangan Ganesh. Malam yang panjang terasa. Sekalipun sulit buat kami
tidur di tempat sempit seperti itu, kami tidak bisa melewatkan rasa ngantuk.
Pagi berikutnya kami berhenti di sebuah kota kecil. Kami menyewa losmen
kecil buat mandi dan sarapan. Kami istirahat selama 4 jam memberikan
kesempatan Ganesh tidur. Di tempat itu kami diliatin penduduk sekitar.
Apalagi Rianti dan Clarissa. Orang-orang India memiliki keramahan berbeda
dengan Indonesia. Apalagi bukan di kota besar seperti Bombay, Delhi atau
Madrass. Suara mereka yang keras membuat kami mengira mereka marah. Tetapi
sebenarnya tidak. Di tempat itu kami baru sadar bahwa kami sudah menempuh 15
jam perjalanan. Tetapi kami masih berada setengah perjalanan menuju Jodhpur.
Setelah membuka peta baru kami sadar berapa jarak sebenarnya dan berapa
waktu tempuh sebenarnya antara Bombay-Jodhpur. Bombay-Jodhpur berjarak
850km, Kira-kira 24 jam waktu perjalanan darat jika ditempuh secara
non-stop. Kami merasa ditipu. Fedi yang biasanya diam, kini marah-marah, dia
protes ke producer atas perlakuan ini. Jawab producerku, pihak MD tidak tahu
menau soal ini. Mereka juga minta maaf. Pak Rajish, salah satu karyawan MD
dari India bagian make up artis banyak membantu kami. Setidaknya membantu
kami berkomunikasi. Ternyata, dibalik semua itu ada yang tidak jujur,
memanfaatkan situasi ini untuk mengambil keuntungan. Aku marah, tetapi aku
tahu itu tidak ada gunanya. Akibat dari kesalahpahaman ini kami kehilangan
waktu dan tenaga yang seharusnya bisa dimanfaatkan buat Shooting. Kami cuma
bisa pasrah .
Jam 8 malam, tepat 30 jam perjalanan dari Bombay, kami masuk Hotel.
Alhamdulillah, akhirnya kami bisa merebahkan diri di tempat yang layak.
Diatas tempat tidur aku melepaskan pikiran. Sepanjang hidupku, tidak pernah
aku membayangkan melintasi negeri Gujarat naik bis. Tanpa asuransi, tanpa
perlindungan apapun. Untung tidak ada teroris menghadang kami. Sungguh, aku
sudah tidak kuat. Aku ingin lari saja dari produksi. Toh, tidak ada jaminan
apapun buatku untuk menyelesaikan film ini? Uang? Demi Alloh, gajiku tidak
sebanding dengan persoalan yang aku hadapi. Kalau orang mengira aku
melakukan ini semua demi uang? Demi jualan? Kehormatan? Wallohi, orang itu
benar-benar picik. Tidak ada keuntungan materi yang aku dapat di film ini.
Semata-mata hanya idealismeku saja yang berharap Film Indonesia tidak hanya
diisi oleh Horor dan percintaan remaja Kota. Tapi apa itu idealisme? Apakah
Kang Abik dan jutaan pembaca AAC mengerti soal idealisme ini? Apa yang
mereka bisa berikan buat mengganti segudang persoalan kami disini? Mereka
tidak lebih dari sekedar penonton yang menuntut hiburan atau
membanding-bandingk an Film dengan Novelnya. Lantas jika tidak sama dengan
Novelnya terus mencaci maki, menganggap bodoh dan kafir sutradara yang
membuat. Karena hal-hal islami dalam Novel tidak tampak, tidak terasa.
Lagi-lagi dadaku sesak. Tapi aku tidak bisa lari. Aku sudah berjanji
kepada diriku, anakku dan ibuku untuk memberikan yang terbaik.
'Kalau kamu sudah bisa membuat film. Buatlah film tentang agamamu.' Kata
ibuku yang terus menerus terngiang.
Pagi harinya aku mulai shooting. Dan persoalan seperti tidak selesai.
Dari mulai peralatan yang kami pakai sudah ditinggalkan industri India 5
tahun yang lalu alias butut: Lampu-lampu yang fliker (menghasilkan cahaya
kelap-kelip seperti neon yang habis watt nya), Kamera tua yang ketika
dipakai mengeluarkan bunyi berisik, generator kami yang lebih layak dipakai
buat menyalakan mesin pemarut kelapa dibanding buat shooting. Lalu kru-kru
India yang disediakan untuk membantu kami bukan kru profesional. Di bagian
akomodasi makanan kami selalu datang telat sehingga banyak yang protes.
Tidak hanya kru Jakarta saja yang protes, kru India juga begitu. Suatu kali
pernah mereka mogok kerja tidak shooting karena hanya di kasih makan sekali
sehari. Padahal shooting sampai jam 12 malam. Di lokasi gurun, kami harus
mendaki gunung pasir dengan jalan kaki sebelum menuju lokasi utama. Kami
menggunakan Unta buat mengangkat Kamera dan perlengkapannya. Kaki-kaki kami
sakit tertusuk tanaman duri. Bibir kami banyak yang pecah karena panas
matahari. Sebelum mencapai tempat lokasi, kami istirahat mirip
kafilah-kafilah yang kehausan ditengah sahara.
Tapi dari semua kesulitan itu, Alhamdulillah aku bisa menyelesaikannya
dengan baik. Lokasi yang aku dapatkan luar biasa. Kecuali lokasi Gurun,
lokasi Nil, Taman, Rumah Sakit berada di satu hotel peninggalan Kasultanan
Pakistan. Lokasi gurun Pasir kami tempuh 4 jam perjalanan dari Jodhpur.
Melelahkan tapi juga menyenangkan.
3 hari kami melakukan shooting dan 2 hari sisanya adalah perjalanan. Di
hari ketiga, rombongan kembali ke Jakarta. Aku bersama 20 cann film hasil
shooting di Jodhpur terbang menuju Madras untuk editing dan processing lab.
Sastha Sunu, editor Ayat-Ayat Cinta sudah menungguku disana. Sampai tulisan
ini dikirim, aku masih menyelesaikan proses film Ayat-Ayat Cinta yang
semakin lama semakin rumit secara teknis. Sehingga mengakibatkan jadwal
Tayang Ayat-Ayat Cinta mundur di bulan Januari. Aku tidak berani menjelaskan
kerumitan itu, karena sifatnya technical sekali. Pendeknya, produksi
Ayat-Ayat Cinta adalah produksi yang penuh dengan cobaan dibandingkan 6
filmku sebelumnya.
Semoga Cobaan ini membuktikan Cinta Alloh masih bersama Kami semua .
December 14, 2007 | Permalink
AYAT-AYAT CINTA
TENTANG KARAKTER FAHRI
Ini Film ketujuh setelah 'Get Married' dan ' Ledhek'. Dua-duanya akan rilis
lebaran ini. Ayat-ayat Cinta di proyeksikan untuk Idul Adha, Natal dan Tahun
Baru. Bisa kebayang bukan siapa yang akan menonton film ini.
Membaca Novel Ayat-Ayat Cinta, membuat saya mengantuk hingga setengah buku.
Kantuk itu hilang pada saat bab mulai mengarah ke konflik. Yaitu ketika
Fahri difitnah, masuk penjara dengan vonis mati, lalu seorang gadis kristen
koptik bernama Maria datang menyelamatkan dengan 'syarat' kalau dia harus
dinikahi dulu. Padahal Fahri saat itu sudah beristeri seorang gadis
Turki-Jerman, Kaya dan cantik bernama Aisha. Kenapa mendadak saya tidak
mengantuk? Buat saya disitulah letak religiusnya. Buat saya, religius bukan
semata-mata mulut berucap doa dan puja-puji kepada Tuhan; religius juga
bukan aktifitas menyeru tentang kebaikan di atas mimbar, di TV, Radio atau
majalah sambil berdendang asik dengan ayat-ayat Quran dan Hadist. Bagi
saya, religius adalah ketika manusia berada dalam kesadaran penuh atas
ketidaksempurnaan. Ketidaksempurnaan itu membuat manusia merasa dirinya
tolol, merunduk, bersujud dan ... bertawaqal. Saya merasa pada saat itu
Fahri menjadi tokoh yang sangat saya cintai. Sebelumnya, Fahri adalah
malaikat. Fahri adalah lelaki sempurna, yang menurut saya, tidak ada di
dunia ini. Sekalipun Habiburrahman bilang sosok Fahri banyak kita temui di
Cairo, saya tetap tidak percaya. Saya memang melihat banyak Fahri disana.
Seorang dengan pengetahuan agama Islam tinggi. Seorang rendah hati, pejuang
hidup, sederhana dan pintar. Sekalipun saya meragukan kemampuan menguasai 4
bahasa (Inggris, Jerman, Arab dan Indonesia) sekaligus. Keraguan saya juga
bertambah ketika dirinya dicintai oleh 4 orang gadis cantik dengan
karakteristik berbeda-beda: Maria, seorang gadis cantik, pintar, kritis,
sekalipun seorang kristen tetapi sangat mengagumi Al quran. Nurul, seorang
gadis Indonesia, anak kyai besar di Jombang, seorang ketua Widah (sebuah
perkumpulan anak-anak Al Azhar di Cairo), cantik, sederhana dan tentunya
pintar. Lalu Noura, seorang gadis mesir yang dianiyaya ayahnya, dipaksa
dijual menjadi pelacur. Juga seorang gadis cantik dan pintar. Terakhir,
Aisha, seorang gadis keturunan Jerman-Turki- Palsetina. Sebuah paduan
sempurna yang saya tidak perlu menjelaskan seperti apa bentuknya. Pastinya
Cuantiik nemen rek, begitu kata orang jawa timur. Tidak hanya itu, dia juga
kaya raya, setia, pintar dan solehah. Bahkan Aisha juga seorang perempuan
yang merelakan suaminya untuk poligami. Duhai, lelaki mana yang tidak jatuh
hati sama perempuan macam Aisha? Dan Fahri, tokoh ciptaan kang Abik yang
mendapatkan hidayah itu. Bagi kang Abik, Aisha adalah bidadari yang pantas
buat Fahri yang 'sempurna'. Sungguh, saya tidak tahan melihat sosok Fahri
yang tanpa cacat itu.
Seorang kreator adalah Tuhan bagi ciptaannya. Tidak hanya di film, dalam
ranah sastra, apalagi sastra modern, seorang penulis memiliki hak penuh
(sebagaimana Tuhan) untuk menciptakan karakter, set dan cerita. Tapi
masalahnya kreator bukan sepenuhnya Tuhan. Kreator punya tanggungjawab
meyakinkan penonton atau pembaca perihal karakternya. Ada logika
'Ruang-Lingkup' yang dihadirkan untuk mewujudkan kesinambungan dunia
realitas karakter dengan dunia realitas penonton ataupun pembaca. Dalam hal
ini, Kang Abik menciptakan tokoh Fahri yang jauh dari logika 'Ruang-Lingkup'
tersebut, setidaknya cuma bab-bab awal sampai tengah. Selebihnya, Fahri
menjadi manusia biasa. Hal itu yang membuat saya tertarik.
Oleh sebab itu pertama kali yang saya dan Salman Aristo lakukan sebelum
membuat film Ayat-Ayat Cinta, adalah membongkar tokoh Fahri. Itikad ini saya
lakukan bukan saya tidak respect dengan tokoh Fahri ciptaan kang Abik.
Melainkan justru saya ingin Fahri menjadi representasi lelaki muslim.
Representasi penonton.
Di dalam Novel digambarkan, Fahri adalah seorang lelaki yang tidak hanya
soleh. Tapi juga seorang pemimpin Flat, panutan, kakak bagi
yunior-yuniornya, seorang yang optimistik dan percaya diri, ganteng dan
pintar (menguasai 4 bahasa). Apabila tokoh seperti ini dijabarkan lewat
tulisan, akan dengan mudah menarik simpatik pembaca. Tapi jika di visualkan?
Mari kita lihat Ongky Alexander di Catatan si Boy, atau Sakhru khan di
film-film India. Apakah saya akan membuat film yang meletakkan karakter
dalam dunia mimpi seperti sinetron-sinetron Indonesia? Tentu saja Tidak.
Fahri di Film Ayat-Ayat Cinta adalah sosok yang lugu, ragu dan tidak terlalu
percaya diri. Lugu mencerminkan sifat sederhana dan apa adanya. Tidak
neko-neko. Ragu lebih kepada sikap yang selalu hati-hati. Karena itu Fahri
selalu dekat dengan Quran dan Hadist. Setiap menghadapi persoalan, Fahri
bukan seperti superman yang mendadak menjadi jagoan. Justru sebaliknya,
Fahri sangat hati-hati dan tidak show off. Hal ini tampak nanti pada saat
adegan di Metro. Di Novel, saya mendapatkan kesan Fahri seorang jagoan,
seorang Nabi yang sedang memberikan wejangan umatnya. Saya tidak bisa
membayangkan jika itu di filmkan. Pasti jadinya akan seperti sinetron
religius yang berisi ceramah-ceramah secara verbal. Karena Film adalah
bahasa Visual, maka saya menghindari verbalitas. Di Film, Fahri menjadi
lelaki sederhana yang terlibat pertengkaran hanya karena membela seorang
perempuan. Quran dan Hadist menjelaskan itu yang memberikan alasan Fahri
bertindak. Tentu saja tidak menjadi pendekar Silat. Melainkan sebagaimana
dirinya yang sekolah di Azhar, Fahri mencoba menjelaskan perihal adab
seorang Muslim menghadapi Tamu (ahlul zimah) yang senantiasa dilindungi
kehormatannya. Tapi karena sikap Fahri yang lugu menghadapi lelaki Arab
besar yang emosional, Fahri justru mendapatkan pukulan karena dianggap SOK
TAHU dan SOK PINTAR. Bibir Fahri sedikit berdarah akibat pukulan itu. Pada
saat itulah Fahri justru mendapatkan simpatik dari Aisha-Alicia dan
penumpang Metro. Simpatik itu bukan karena Fahri bisa meredamkan emosi orang
Arab sebagaimana di Novel. melainkan karena keberanian fahri menghadapi
persoalan sekalipun kalah. Adegan itu juga meletakkan sosok Fahri sebagai
manusia yang tidak sempurna, bisa berdarah dan lemah. Buat saya, ini lebih
realistis.
Oleh sebab itu pemilihan Fedy Nuril menjadi Fahri adalah hal yang menurut
saya tepat. Dalam diri Fedy ada keraguan dan kepolosan. Fedy bahkan tidak
mengerti bagaimana meletakkan kakinya pada saat tahiyat akhir. Tapi justru
dengan begitu, Fedy terlihat berusaha. Fedy yang tidak sempurna mencoba
belajar menjadi sempurna. Kebanyakan yang casting menjadi Fahri, salah
menafsirkan Fahri sebagai sosok religius. Mereka menampilkan diri mereka
sangat suci. bahkan ketika melantunkan satu ayat, terlalu over dramatic
sebagaimana ustadz-ustadz yang ada di TV dan Radio. Padahal tanpa mereka
berbuat begitupun, sesungguhnya ayat Quran sangat Indah dan menyentuh hati.
Di Flatnya, dalam Novel ditulis kalau Fahri seorang pemimpin sekligus abang
bagi yunior-yuniornya. Terus terang saya sangat risih dengan tingakatan
Senior-Junior. Hal ini menampakkan sisi feodalisme yang justru bukan ciri
Islam. Padahal saya kerap menemui itu di pesantren-pesantren . Di Film, saya
menempatkan Fahri tetap seorang pemimpin Flat yang bertanggungjawab atas
kebersihan dan kelangsungan aturan di Flat. Tapi bukan seorang Senior yang
men jadi panutan seperti seorang kyai menjadi panutran Santri. Sosok Saiful
yang di gambarkan kang Abik sebagai Yunior, justru saya tempatkan menjadi
sparing partner Fahri. Tingkat pendidikan Saiful sama dengan Fahri. Keduanya
sama-sama belajar agama. Bedanya, Fahri terlihat sebagai karakter yang
konservatif, Saiful justru lebih moderat. seperti Gus Dur dan Gus Solah
(solahudin Wahid). Gus Dur yang kadang nyeleneh dan berani adalah Saiful,
Gus Solah yang hati-hati dan cenderung lurus adalah Fahri. Dengan demikian,
Fahri tidak menjadi sosok paling benar di Flatnya. Saiful menjadi teman
tidak hanya dalam diskusi Islam, tetapi teman curhat ketika Fahri
mendapatkan masalah. Pada saat Syeh Ustman menawari talaqi ke Fahri. Saiful
yang diajak bicara. Begitu juga saat Fahri di fitnah dan masuk penjara.
Saiful menjadi sahabat setia.
Perobahan karakter tersebut didasari atas berbagai pengamatan kami terhadap
penonton Indonesia. Sudah jarang kita temukan film-film sekarang yang
menempatkan sosok seperti si Boy dalam Catatan Si Boy. Film paling laris
Indonesia Ada Apa Dengan Cinta yang melahirkan idola Nikolas Saputra, juga
bukan seorang yang sempurna. Lelaki tanpa teman, sinis, terkesan kasar sama
perempuan, hanya punya seorang ayah yang hidup dalam idealismenya, tetapi
memiliki kelembutan dan cinta yang tulus. Kesempurnaan di era paska
reformasi justru menjadi pertanyaan. Bahkan di negara berkembang sekalipun.
Saya mempunyai harapan film ini tidak hanya sekedar film alternative di
tengah bombardir Horor dan roman cinta remaja. Film ini saya harapkan
menjadi citra muslim di Indonesia bahkan Internasional. Bahwa Islam adalah
agama penuh cinta kasih. Penuh perenungan atas ketidaksempurnaan
manusia-manusia muslim didalamnya. Bukan justru sebaliknya, radikal, terlalu
meyakini atas kebenaran, dan tidak toleran.
'Wala tusho'ir khaddakallinas, wa la tansyi fil ardhi maroha, Innalloha la
yuhibbu kulla mukhtalin fakhur' (Lukman 18)
... Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia, dan janganlah
berjalan di bumi dengan Angkuh. Sungguh Alloh tidak menyukai orang yang
sombong dan membanggakan diri ...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar