Rabu, 12 Maret 2008

KISAH DI BALIK PRODUKSI AYAT-AYAT CINTA (bag.1)

Aku mulai sadar bahwa tidak mudah membuat film agama. Itulah kenapa
ibuku dulu berpesan kalau kamu sudah bisa membuat film, buatlah film tentang
agamamu: Islam. Awalnya aku cuma tersenyum mendengar kata-kata ibuku. Senyum
yang menyangsikan. Sebab pada waktu itu buatku film agama tidak lebih dari
sekedar petuah-petuah yang membosankan. Lelaki berpeci dengan baju koko,
bertasbih, kadang berewokan, mulutnya nerocos soal ayat dengan cara
menghadap kamera. Membuat dirinya tampak suci dengan mengumbar ayat-ayat
Quran. Ah, tidak terbayang olehku sebuah film agama. Tapi aku tidak begitu
saja lantas menyerah. Aku coba berangkat dari apa yang aku kenal:
Muhammadiyah. Lalu merentet ke sebuah nama: Ahmad Dahlan. Hmm, aku memang
menyukai film yang mengangkat satu tokoh: Gandhi, Erin Brokovich, Henry V,
Shakespeare, Baghad Sigh, Malcom X, dan mungkin juga nanti Sukarno (kalau
memang jadi difilmkan oleh Hollywood). Film yang mengangkat tokoh bisa
membuat penonton bercermin. Dan Agama adalah cermin bagi manusia untuk
senantiasa melihat kembali dirinya: Kotor atau bersih?
Lalu aku membuat proposal Ahmad Dahlan untuk aku tawarkan ke PP
Muhammadiyah. Ditolak! Muhammadiyah tidak ada uang, katanya . Aku cuma
bengong saja. Tidak ada uang? Kataku dalam hati. Ah, sudahlah. Mungkin waktu
itu aku belom dipercaya. maklum masih kuliah di IKJ semester Akhir.
Lalu kutinggalkan itikadku membuat film Agama. Aku terjun membuat film
Cinta: Brownies, Catatan Akhir Sekolah, Jomblo, dsb ... dsb ... Tapi aku
tetap yakin bahwa suatu saat akan datang masa aku membuat film tentang
agama.
Alhamdulillah, benar. MD Entertainment menawari membuat Film Ayat-Ayat
Cinta (AAC).
'Kenapa anda membuat film ini?' Tanyaku
'Sederhana. Pertama, Ini film dari Novel best seller. Kedua, penduduk
indonesia 80 persen muslim. Kenapa saya tidak membuat film tentang mereka?
Kalau saya minta 1 persen dari 80 persen masak tidak bisa.'
1% dari 80% penduduk muslim Indonesia berarti sekitar 2 juta penonton.
dikalikan 10 ribu per tiket. Berarti pendapatan kotor 20 milyar. Kalau bujet
produksinya 10 milyar, keuntungan yang didapat 10 milyar.
Aku jadi berfikir, kenapa Muhammadiyah tidak berfikiran begitu ya? Kalau
cuma mengumpulkan 2 juta penonton, masa Muhammadiyah tidak sanggup? Bukankah
dari 80% tersebut 40% adalah warga Muhammadiyah? Ah, dasar stupid pikirku.
Banyak orang Islam tidfak berfikir luas seperti orang-orang Yahudi. Oleh
sebab itu Islam selalu dimarjinalkan, mudah diadu domba, dibohongi ...
diakali.
Lalu aku mulai memasuki tahap persiapan dan riset.
Wallohu ... Aku melihat islam dari dekat sekali. Sangat dekat. Di Kairo,
aku menatap Menara Azhar, aku menyentuh dinding dan lantai Azhar university,
aku mencium bau apek baju-baju dan karpet mahasiswa Alzhar tetapi memiliki
roman muka bersih dan santun. Aku melihat keikhlasan mereka saat bersujud
diatas sajadah buluk. Bibir mereka pecah-pecah oleh panas sekaligus dingin
hawa Kairo, tetapi dibalik bibir pecah itu terlantun dzikir panjang
menyebut: Alloh ... Alloh ...
Lalu aku melihat seorang syaih duduk bersila dihadapan murid-muridnya.
'Tallaqi' mereka menyebutnya. Aku mendengar seorang melantunkan ayat-ayat Al
quran di sudut masjid. Dan juga di pinggiran jalan. Seolah quran bagaikan
bacaan novel. Allohu Akbar ... Allohu Akbar. Inikah caramu membuatku dekat
dengan agamaku, Ibu?
Darahku menggelora membuat mataku terbelalak. Islam sangat indah. Islam
sangat eksotis. Tapi orang-orang islam seperti tidak mengerti semua itu.
Orang-orang Islam di Jakarta lebih memilih jalan-jalan ke eropa daripada ke
Kairo.
'Saya akan membuat film ini eksotis, pak' begitu kata saya ke producer.
Dan mulailah persiapan dimulai. Semangatku menggelora. Aku baca
buku-buku tentang Fiqih dan sunnah. Aku libatkan mahasiswa Al Azhar untuk
mendampingiku. Aku sangat hati-hati sekali melakukan ini agar apa yang
tertulis dalam novel dengan indah pula tersampaikan lewat gambar. Sebuah
film yang lembut, yang indah, yang suci tergambar di depan mataku dan aku
yakin sekali bisa mewujudkannya.
Namun semua impianku itu tidak begitu saja mudah diwujudkan.
Pertama kali berita tentang pembuatan film AAC tersebar, halangan
pertama datang justru dari pembaca. Diantara banyak yang berharap, mereka
juga menyangsikan, sinis, dan mencemooh. Bahkan ada yang bilang : 'Wah,
sayang sekali novel sebagus ini akan difilmkan. Jadi ill Feel, deh'. ada
juga yang bilang 'Tidak pernah aku lihat Novel yang di filmkan hasilnya
bagus, sekalipun Harry Potter. Apalagi ini.'
Pada suatu hari ada sekelompok orang datang ke kantor MD, mereka bilang
dari organisasi Islam. Mereka datang dengan membawa seorang lelaki berwajah
putih dan seorang gadis berjilbab. Mereka bilang ...
'Ini calon pemain Fahri dan ini calon pemain Aisha' sambil menunjuk ke
lelaki berwajah putih dan gadis berjilbab itu.
'Kami dari organisasi Islam' lanjutnya 'Kami sangat concern terhadap
dakwah islamiah. Kami tidak ingin film Ayat-Ayat Cinta melenceng dari novel
dan ajaran Islam. Kang Abik (Nama panggilan Habiburrahman El Shirasy) sudah
tahu tentang ini.'
Kami hanya saling pandang dan tersenyum. Aku ... malu sekali.
Tentu saja kami menolaknya. Kami tahu bahwa film ini harus dibuat dengan
hati-hati sekali. Kami juga tidak begitu saja memilih pemain hanya
semata-mata ganteng dan 'menjual'. Karena itu kami menggandeng ketua PP
Muhammadiyah Din Syamsudin sebagai penasehat kami.
Sebelum aku melakukan casting, aku berdiskusi dulu dengan kang Abik.
Kang abik sangat concern dengan sosok Fahri. Dia harus turut serta memilih
tokoh Fahri. Semula kami membuka casting di pesantren-pesantren . Tetapi
hasilnya Nol. Bukan berarti para santri tidak ada yang ganteng dan pintar
seperti fahri. Tetapi banyak diantara mereka sudah menganggap 'Film' adalah
produk sekuler. Oleh sebab itu banyak diantara mereka tidak mau ikut
casting. Saya pernah membaca satu hadist, jangankan membuat film, menggambar
manusia saja hukumnya Haram. Nanti di Neraka hasil gambar yang kita buat
harus kita hidupkan. Kalau tidak bisa, Malaikat Jibril akan mencambuk kita
dengan cambuk api.
Kami melakukan casting lebih dari 5 bulan. Semua yang ikut casting
adalah pemain-pemain terkenal. Tapi diantara mereka banyak terjebak pada
tuntutan atas 'Kesucian Fahri'. Banyak diantara mereka beracting 'sok suci'
dengan melantunkan ayat-ayat dan menyebut asma Alloh dengan berlebihan,
mirip seperti ustadz-ustadz di TV-TV. Pernah aku menemukan seorang yang
menurutku pas bermain sebagai Fahri. Tetapi lelaki itu tidak beragama Islam.
Kang Abik tidak setuju. Lalu ditengah keputusasaan kami datang seorang
lelaki. Ganteng, tetapi tidak sombong (tidak merasa dirinya ganteng). Sering
kita lihat di Mal-Mal, banyak lelaki pesolek, sadar sekali bahwa dirinya
ganteng. Tetapi lelaki ini tidak . Dia sangat santun. Bahasanya pun santun.
Ketika berucap Alloh, dia agak-agak canggung. Bahkan tidak fasih seperti
ustadz. Pada saat dia sholat aku melihat gerakannya jauh dari sempurna.
Tetapi lelaki itu punya mata yang didalamnya mengandung semangat belajar.
Dia adalah Fedi Nuril. Aku berdiskusi dengan kang Abik. Terjadi tarik ulur
dan perdebatan panjang. Akhirnya kita sepakat memutuskan dia yang main
sebagai Fahri. Alasanku adalah, Fahri bukan lelaki sempurna. Tapi yang
membuat Fahri tampak sempurna karena dia sadar bahwa dirinya tidak sempurna.
Keputusan Fedi Nuril sebagai Fahripun mengundang banyak kesangsian di
kalangan pembaca fanatik AAC, terutama di Malaysia. Karena film Fedi Nuril
sebelumnya menampilkan Fedi ciuman dengan perempuan bukan muhrim. Fedi pun
mengakui itu. Yang membuat aku terharu, Fedi menganggap film AAC sebagai
media dia buat dekat dengan Islam. Belajar kembali tentang Islam. Karena
film ini, Fedi jadi rajin membuka-buka lagi buku tentang Islam. Bahkan Fedi
menyadari segala tingkah lakunya yang tidak Islami selama ini setelah
memerankan Fahri. Sungguh, baru kali ini aku rasakan dampak film yang begitu
besar mempengaruhi keimanan seseorang. Terima kasih kang abik. terima kasih
Ibu.
Pada saat kami mencari sosok Aisha dan Maria, semula kami bersepakat
untuk mencari pemain Mesir. Tetapi setelah kami melakukan riset disana,
sangat mengagetkan. Perempuan-perempuan Mesir lebih tua dari umurnya. Aku
mengcasting seorang perempuan mesir bernama Roughda untuk berperan sebagai
Aisha. Tidak hanya cantik, tetapi mainnya luar biasa. Tetapi setelah di
sejajarkan dengan Fahri, terlihat Roughda lebih pas sebagai kakaknya
daripada isteri Fahri. Padahal umurnya lebih muda 3 tahun dari Fedi Nuril.
Lalu kami mencari pemain dengan umur 8 tahun lebih muda dari Fedi. Pada saat
kami sejajarkan, sangat pas. Tetapi disaat dia berdialog tentang perkawinan,
tidak bisa dipungkiri 'kedewasaannya' tidak tampak. Alias belum matang. Kami
bingung dan akhirnya kami sepakat untuk mencari pemain indonesia saja.
Tidak gampang mencari pemain indonesia yang cantik sekaligus solihah.
Pak Din Syamsudin berpesan kalau bisa pemain Aisha kesehariannya ber jilbab.
Lihatlah siapa artis kita yang bertampang Bule yang seperti itu. Hanya
Zaskia Meca saja yang berjilbab dan cantik. Selebihnya tidak ada. Sementara
itu Zascia tidak bertampang bule. Dia sangat sunda. Pernah kita meng casting
Nadine Candrawinata. Dia sangat cantik dan bermain bagus. Dangat cocok pula
berdampingan dengan Fedi Nuril. Tapi Nadine bukan Muslim. Padahal Nadine
sudah mau bermain sebagai perempuan Muslim. Aku pernah berdiskusi panjang
dengan kang abik soal itu. Aku bilang padanya ...
'Suatu hal yang unik, ketika tokoh Maria yang kristen dimainkan oleh
seorang muslim, sementara tokoh Aisha yang Islam dimainkan seorang kristen.
Ini akan memperlihatkan sikap toleransi dan demokratisasi dalam Islam
seperti di India.'
Tetapi kang abik dan pak Din Syamsudin menyarankan untuk jangan bertaruh
terlalu besar di film ini. Masyarakat Islam di Indonesia berbeda dengan
India. Di India, masyarakat moslem dan Non Moslem sudah terdidik tingkat
kedewasaan dalam toleransi, sementara di Indonesia belum. Akhirnya
dipilihlah Ryanti sebagai Aisha dan Carrisa Putri sebagai Maria.
Ketiga pemain itu dikursuskan bahasa arab secara privat untuk mendalami
kehidupan Muslim di kairo. Mereka sangat antusias. Namun antusiasme itu
harus berhadapan dengan kenyataan bahwa mereka juga punya kesibukan lainnya.
Ryanti sebagai VJ di MTV dan Carrisa bermain sinetron. Ryanti yang bagiku
sangat keteter ketika berperan sebagai Aisha. Asiha adalah sosok yang
memiliki beban berat. Sementara Ryanti sebagai VJ MTV harus selalu tampak
riang dan ringan. Sering sekali benturan itu membuat proses pendalaman
karakter tidak sempurna. Aku frustasi sendiri. Tetapi aku ingat, bahwa di
Film ini kesabaranku benar-benar di uji. Impianku mewujudkan keindahan dan
kedalaman Islam terbentur oleh kenyataan sebaliknya: Ringan, Riang,
Hedonistik dan Pop. Apalagi ketika producer tiba-tiba berubah pikiran
melihat kenyataan penonton Film Indonesia banyak di dominasi anak-anak muda
yang pop, ringan dan tidak menyukai hal-hal bersifat perenungan. Dia lantas
ingin mengubah karakterr film AAC menjadi sangat pop seperti Kuch Kuch
Hotahai ... Tuhanku! Tuhanku! selamatkan film ini ...
Tidak jarang aku berperang mulut dengan producerku ketika meminta adegan
Talaqi dibuang. Karena boring dan membuat penonton mengantuk. Lalu beberapa
adegan yang bersifat perenungan, seperti pada saat Fahri dipenjara dan
menemukan hakikat kesabaran dan keikhlasan dari seorang penghuni penjara
yang absurd (dalam novel digambarkan sebagai seorang professor agama bernama
Abdul Rauf), Tetapi di Film saya adaptasi sebagai sosok imajinatif, bergaya
liar, bermuka buruk tetapi memiliki hati bersih dan suara yang sangat tajam
melafatskan kebenaran. Semua adegan itu diminta untuk dibuang atau dikurangi
dan lebih mementingkan adegan romans seperti AADC ataupun Kuch Kuch Hotahai
...
Sabar ... Sabar ... Ikhlas ... ikhlas!!!
begitulah yang aku dapatkan di film ini. Film ini tidak hanya mampu
merobah pandanganku tentang Film. Film ini mampu dan sudah merobah pandangan
hidupku: tentang agama, kesetiaan, kerjakeras, komitmen, dan ... cinta.
Berkali-kali aku berucap syukur yang besar kepada Tuhanku yang sudah
memberikan aku jalan menuju kedewasaan. Berkali-kali aku berucap terima
kasih kepada Kang Abik yang sudah secara tak langsung mempercayaiku
menyutradarai film ini, dimana telah membuatku kembali merasa dekat dengan
Islam yang indah, bersahaja dan penuh dengan toleransi. Dan terakhir,
berkali-kali aku berucap syukur kepada Ibuku yang telah berpesan untuk
membuat film tentang agama. Sekarang aku mengerti, kenapa Kau berpesan
begitu Ibu. Tidak lain hanyalah untuk membuatku selalu dekat dengan Islam
...
La haula wa kuwwata illa billahi ...

Tidak ada komentar: