Terdapat hubungan yang erat antara bahasa yang digunakan dengan cara individu berpikir (yang pada akhirnya mempengaruhi cara bertindak). Individu dapat memahami lebih lanjut mengenai individu lain (termasuk dirinya sendiri) jika individu benar-benar memahami bahasa yang digunakan, seperti bahasa sensorik ataupun metafora.
Memberikan label kepada seseorang cenderung membuat individu bereaksi sesuai dengan label yang ia berikan. Ketika individu mengatakan seseorang sebagai pembohong, individu tersebut mendefinisikan individu lain dalam hubungannya dengan salah satu aspek dari prilakunya. Dapatkah anda membayangkan berapa banyak masakan enak yang perlu dibuat seseorang agar dapat dipanggil sebagai "Juru Masak Jempolan"? Berikan label dan respon terhadap label hanya pada prilaku dan tidak pada individunya.
Reframing adalah membuat sudut pandang baru atas suatu pengalaman. Individu dapat merubah cara berpikir mengenai suatu hal dengan mengubah bahasa yang digunakan. Mengganti penyebutan dari "masalah" menjadi "tantangan" adalah salah satu contohnya. Hal itu tidak akan merubah situasi, namun dapat merubah cara bersikap sehingga setelahnya merubah cara dalam berprilaku.
Individu lebih mudah mendapatkan solusi ketika merubah posisinya, karena perubahan posisi dapat merubah persepsi. Ketika individu berada pada suatu konflik, usahakan agar dapat memposisikan diri pada individu lain, membayangkan jalan pikirannya berkenaan dengan masalah tersebut. Sehingga individu bersangkutan mendapatkan pemahaman baru. Individu pun dapat pula merubah posisinya pada berbagai macam kemungkinan lainnya. Misalnya bayangkan bagaimana pandangan anak lima tahun atas permasalahan yang sedang dihadapi, atau seorang yang telah berusia delapan puluh tahun? Bagaimana pula pandangan seorang artis/pendeta/polisi atau lainnya.
Model atas suatu pengalaman yang dibuat oleh individu tidak sama dengan pengalaman yang sebenarnya. Kerancuan model pada akhirnya mengarah pada kerancuan cara bertindak. Guna mencegah hal tersebut, individu perlu mendapatkan model presisi (precision modelling). Model presisi memungkinan individu membentuk meta-model (meta = di atas, model atas model itu sendiri) sehingga individu mendapatkan model yang berbeda dari model yang sebelumnya. Hal ini memungkinkan individu untuk kemudian memilih model yang disukai di antara model yang tersedia. Pemodelan presisi mengidentifikasi berbagai cara bahasa dalam membatasi suatu pengalaman. Beberapa contoh dari pemodelan presisi dapat diberikan sebagai berikut:
Penghapusan (Deletions)
Contoh: Saya tidak mengerti --- Apa yang secara spesifik tidak anda mengerti?
Universal quantifiers (selalu, semua, setiap dan lainnya)
Contoh: Setiap orang membenci saya --- Setiap orang? Setiap orang di bumi?
Comparative deletions
Contoh: Saya ingin menjadi seorang yang lebih baik --- Lebih baik dari apa?
dan masih banyak lagi lainnya
Juga penting bagi individu untuk benar-benar spesifik dalam menentukan tujuan. Gunakan kata-kata yang positif untuk menggambarkan secara spesifik berbagai hal yang diinginkan (dibandingkan dengan hal yang ingin dihindari).
Memberikan label kepada seseorang cenderung membuat individu bereaksi sesuai dengan label yang ia berikan. Ketika individu mengatakan seseorang sebagai pembohong, individu tersebut mendefinisikan individu lain dalam hubungannya dengan salah satu aspek dari prilakunya. Dapatkah anda membayangkan berapa banyak masakan enak yang perlu dibuat seseorang agar dapat dipanggil sebagai "Juru Masak Jempolan"? Berikan label dan respon terhadap label hanya pada prilaku dan tidak pada individunya.
Reframing adalah membuat sudut pandang baru atas suatu pengalaman. Individu dapat merubah cara berpikir mengenai suatu hal dengan mengubah bahasa yang digunakan. Mengganti penyebutan dari "masalah" menjadi "tantangan" adalah salah satu contohnya. Hal itu tidak akan merubah situasi, namun dapat merubah cara bersikap sehingga setelahnya merubah cara dalam berprilaku.
Individu lebih mudah mendapatkan solusi ketika merubah posisinya, karena perubahan posisi dapat merubah persepsi. Ketika individu berada pada suatu konflik, usahakan agar dapat memposisikan diri pada individu lain, membayangkan jalan pikirannya berkenaan dengan masalah tersebut. Sehingga individu bersangkutan mendapatkan pemahaman baru. Individu pun dapat pula merubah posisinya pada berbagai macam kemungkinan lainnya. Misalnya bayangkan bagaimana pandangan anak lima tahun atas permasalahan yang sedang dihadapi, atau seorang yang telah berusia delapan puluh tahun? Bagaimana pula pandangan seorang artis/pendeta/polisi atau lainnya.
Model atas suatu pengalaman yang dibuat oleh individu tidak sama dengan pengalaman yang sebenarnya. Kerancuan model pada akhirnya mengarah pada kerancuan cara bertindak. Guna mencegah hal tersebut, individu perlu mendapatkan model presisi (precision modelling). Model presisi memungkinan individu membentuk meta-model (meta = di atas, model atas model itu sendiri) sehingga individu mendapatkan model yang berbeda dari model yang sebelumnya. Hal ini memungkinkan individu untuk kemudian memilih model yang disukai di antara model yang tersedia. Pemodelan presisi mengidentifikasi berbagai cara bahasa dalam membatasi suatu pengalaman. Beberapa contoh dari pemodelan presisi dapat diberikan sebagai berikut:
Penghapusan (Deletions)
Contoh: Saya tidak mengerti --- Apa yang secara spesifik tidak anda mengerti?
Universal quantifiers (selalu, semua, setiap dan lainnya)
Contoh: Setiap orang membenci saya --- Setiap orang? Setiap orang di bumi?
Comparative deletions
Contoh: Saya ingin menjadi seorang yang lebih baik --- Lebih baik dari apa?
dan masih banyak lagi lainnya
Juga penting bagi individu untuk benar-benar spesifik dalam menentukan tujuan. Gunakan kata-kata yang positif untuk menggambarkan secara spesifik berbagai hal yang diinginkan (dibandingkan dengan hal yang ingin dihindari).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar